Selasa, 22 September 2020

#112 Resesi dan Momentum Indonesia Maju


Indonesia hampir dipastikan mengalami resesi pada triwulan III 2020 ini. Kementerian Keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan 3 bisa minus hingga 2 persen. Meski pertaruhan masih ada satu bulan hinggga akhir September, namun konsumsi dalam negeri sebagai penopang terbesar perekonomian Indonesia belum terdongkrak secara maksimal. Deflasi yang terjadi pada Juli dan Agustus menggambarkan permintaan/konsumsi dalam negeri masih tertekan. Dalam pidato kenegaraan tanggal 14 Agustus 2020, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa krisis akibat pandemi tahun ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk setara dengan negara-negara maju.

Lompatan besar. Itulah yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk segera keluar dari resesi ekonomi dan mengejar negara maju lainnya. Selayaknya sebuah lompatan besar, Indonesia tentu membutuhkan tumpuan yang kuat berupa sumber daya manusia yang berkualitas dan penggunaan teknologi yang mumpuni guna meningkatkan produktivitas, sesuatu yang saat ini masih tertinggal dibanding dengan negara lain.

Kita berharap dalam ulang tahun kemerdekaan yang ke-100 nanti, Indonesia telah kokoh menjadi negara bependapatan tinggi di dunia. Bahkan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan Indonesia akan menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2043 atau 2 tahun sebelum HUT RI ke-100.

Indonesia memiliki potensi angkatan kerja yang banyak, lahan yang luas, sumber daya alam yang melimpah, dan jumlah penduduk yang besar. Angkatan kerja terus meningkat 1,7 juta orang setahun seiring dengan bonus demografi yang tengah menuju puncaknya. Angkatan kerja yang melimpah ini merupakan suatu keunggulan yang tidak banyak dimiliki oleh negara maju sekalipun. Demikian juga dengan jumlah penduduk yang besar menjadi peluang untuk mendorong permintaan dalam negeri. Seruan untuk menggunakan produk buatan dalam negeri bertujuan untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Dengan keunggulan di atas, sebenarnya Indonesia memiliki prasyarat untuk menjadi negara maju. Namun pada kenyataannya, peranan teknologi dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat kecil. Bahkan menurut Asian Productivity Organization (APO), pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) Indonesia bernilai minus mulai tahun 2010 hingga 2019.

TFP mengkuantifikasi porsi pertumbuhan ekonomi yang tidak dijelaskan oleh peningkatan tenaga kerja dan modal. Penggunaan teknologi yang rendah disinyalir sebagai pemicu TFP Indonesia lebih kecil dibandingkan negara lainnya.

Untuk meningkatkan output di Indonesia masih bertumpu pada peningkatan jumlah tenaga kerja dan modal. Hal ini senada dengan tingginya nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang mencapai 6,6 pada tahun 2019 atau lebih tinggi dibandingkan negara lain. Tingginya ICOR Indonesia ini berarti bahwa untuk meningkatkan output di Indonesia dibutuhkan lebih banyak investasi. Kenyataan ini menjadikan Indonesia belum menjadi tujuan favorit bagi investor asing.

Selain itu, kualitas investasi di Indonesia lebih banyak pada infrastruktur seperti pabrik dan bangunan. Investasi pada mesin dan peralatan nilainya sangat kecil, padahal investasi inilah yang berguna untuk meningkatkan produktivitas. Namun untuk lompatan besar dalam bidang ekonomi, tidak cukup hanya mengandalkan industri padat karya. Teknologi dan inovasi diperlukan untuk mendongkrak perekonomian Indonesia.

Bahkan untuk sektor pertanian, diperlukan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi. Seorang peternak/petani di negara maju mampu mengelola lahan yang sangat luas, karena adanya mekanisasi yang memanfaatkan teknologi. Indonesia memiliki lahan pertanian yang masih luas, namun produktivitasnya masih rendah. Salah satu solusinya dengan intensifikasi berbasis riset dan teknologi untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian Indonesia.

Penggunaan teknologi yang belum optimal juga tercermin dari ekspor manufaktur Indonesia yang hanya 44,7 persen pada tahun 2018, jauh di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Data World Bank menunjukkan, dari ekspor produk manufaktur tersebut, hanya 8 persen produk yang berteknologi tinggi, jauh di bawah negara Asia lainnya. Dalam perdagangan dunia, Indonesia lebih banyak bergantung pada sumber daya alam seperti batu bara dan minyak kelapa sawit. Tidak mengherankan jika kemudian banyak hutan yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan galian tambang di negeri ini.

Peran teknologi yang demikian besar dalam mendukung perekonomian berbanding terbalik dengan kebijakan anggaran untuk Kementerian Riset Dan Teknologi. Tahun 2021 kementerian ini hanya mendapat anggaran 3 Triliun atau meningkat 1 Triliun saja dari tahun ini. Padahal arah kebijakan fiskal 2021 adalah percepatan pemulihan sosial ekonomi akibat dampak pandemi COVID-19, sekaligus melakukan reformasi untuk menguatkan fondasi guna keluar dari Middle Income Trap.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan di Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan industri. Tingkat pengangguran di Indonesia paling banyak pada lulusan SMK, SMA, dan perguruan tinggi. Karenanya, perlu reformasi di bidang pendidikan baik menengah atas dan pendidikan tinggi. Patut diapresiasi bahwa pemerintah masih tetap berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN 2021. Pembangunan bidang pendidikan tahun 2021 nanti difokuskan untuk meningkatkan kualitas SDM, kemampuan adaptasi teknologi, dan peningkatan produktivitas melalui knowledge economy di era industri 4.0.

Peningkatan kualitas tenaga kerja diperlukan untuk meningkatkan produktivitas. Dibandingkan dengan negara lain produktivitas tenaga kerja di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan Asian Productivity Organization (APO), produktivitas per tenaga kerja Indonesia pada tahun 2017 sebesar 26 ribu Dollar AS (2011 PPP), jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Demikian juga pertumbuhan produktivitas per tenaga kerja dalam periode 2015-2017 hanya 1,6 persen, jauh di bawah Malaysia (3,5 persen), Thailand (4,4 persen), dan Vietnam (5,6 persen).

            Dengan kenyataan di atas, Indonesia harus memprioritaskan investasi pada sumber daya manusia dan riset/teknologi sebagai tumpuan untuk melompat setara dengan negara maju. Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia mampu menjadi negara maju dengan kesejahteraan penduduk yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#119 Petani di Pusaran Kemiskinan