Jumat, 24 Juli 2020

Tips Mengerjakan TPA Bappenas a la Emak Anak Lima





Setelah postingan sebelumnya tentang drama emak-emak mengejar beasiswa di usia yang tak lagi muda viral  (ceileee sok ngartiss banget yakkkk). Kemudian banyak yang menanyakan cerita lanjutannya. Bagaimana emak belajar untuk Tes Potensi Akademik (TPA) Bappenas? Dengan anak lima, kemampuan otak yang udah menurun, belum lagi kerjaan rutin yang padat. Bagi akademisi, mungkin apa yang aku lakukan ini receh banget, tapi bagi emak-emak yang sehari2 bergelut dengan pekerjaan yang “receh” maka mengerjakan TPA itu sesuatu yang bener-bener harus dipersiapkan.



TPA Bappenas ini menjadi salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa Pusbindiklatren Bappenas untuk ASN. Tidak hanya itu, TPA Bappenas juga banyak digunakan oleh instansi/Lembaga lain untuk melakukan penyaringan atau seleksi pesertanya. Beberapa perguruan tinggi juga mensyaratkan nilai TPA Bappenas dalam penerimaan mahasiswa pascasarjana. Katanya sih TPA Bappenas ini lebih sulit dibanding TPA sejenisnya. Sekali lagi ini baru katanya lho ya karena si emak inipun belum membuktikannya. Iyain ajalah yaa.

Nah untuk syarat minimal TPA untuk beasiswa Bappenas ini beda-beda sesuai dengan asal instansi dan daerah. 
  • Instansi vertikal (yang tidak di bawah Pemerintah Daerah, contohnya BPS) di Jawa syarat minimal TPA nya 565.
  • Pemerintah Daerah di Jawa syarat minimal TPA 525.
  • Instansi vertikal di luar Jawa syarat minimal TPA 525.
  • Pemerintah Daerah di luar Jawa syarat minimal TPA nya 500.


Jadi bagiku yang bekerja di instansi vertikal di Jawa, tentu harus berusaha ekstra keras. Sedangkan teman-teman yang di pemerintah daerah atau ASN vertikal yang bekerja di luar Pulau Jawa, peluangnya lebih besar karena syarat minimalnya lebih rendah. Trus aku ngiri gitu? Yo ndak lah, rejeki tidak akan pernah tertukar. Udah gitu kan aku pernah 8 tahun di Timika Papua, dan 5 tahun di Banten. Banten kan juga luar Jawa, buktinya ndak ada awalan Jawa di depannya, hihihihihi..

Pertama yang emak ini lakukan adalah membeli buku soal dan pembahasan TPA Bappenas. Meski harus diakui bahwa soal-soal yang banyak dijual ini jauh banget dengan soal-soal aslinya. Tapi paling tidak kita ada gambaran seperti apa sih jenis soal yang akan kita hadapi nanti. Oiya, pastikan beli buku soal dan pembahasan TPA yang terbitan terbaru, jadi masih agak ada mirip-miripnya lah.

Nah, soal TPA Bappenas itu ada 250 yang terdiri dari tes Verbal 90 soal, tes kuantitatif 90 soal, dan tes penalaran 70 soal. Masing-masing tes waktunya 60 menit. Bagi emak yang sudah 15 taun ndak makan bangku sekolahan, mustahil untuk bisa mengerjakan semua soal tersebut, kalau mengisi semuanya sih bisa (dilengkapi dengan mengarang jawaban). Tapi kemudian bener-bener mengerjakan 250 soal dalam waktu 180 menit, jelas emak tak mampu kawan. Jadi diperlukan strategi mengerjakannya supaya waktu 180 menit itu efektif.

Berikut tips mengerjakan TPA Bappenas a la emak-emak galau:

1. Kerjakan sesuai dengan prioritas yang lebih mudah


Mengerjakan sesuai prioritas ini penting sesuai dengan yang paling mudah bagi kita. Prirotas ini bahkan sampai aku catat di buku sakti, biar tidak lupa. Maklum gaess, emak-emak gampang sekali lupa.
Untuk tes verbal yang terdiri dari subtes kosakata 25 soal, padanan kata 25 soal, analogi verbal 25 soal, dan pemahaman 15 soal. Si emak tidak melakukan skala prioritas di tes ini, ngurut saja dari kosakata hingga pemahaman.

Skala prioritas baru mulai aku lakukan ketika mengerjakan tes kuantitatif. Tes ini terdiri dari soal hitungan 25 soal, deret 25 soal, komparasi 25 soal, dan soal cerita 15 soal. Aku mengerjakan dari yang paling mudah yaitu mulai dari deret, kemudian komparasi, hitungan dan soal cerita. Begitu pengawas mengatakan waktu habis untuk Tes Verbal, langsung aku buka subtes deret, kemudian lanjut komparasi, dan seterusnya. oiya, untuk subtes hitungan itu perlu dihafalkan nilai pecahan, misal 62,5% itu sama dengan 5/8, 66,67% itu sama dengan 2/3. Hafalan itu sangat memudahkan ketika mengerjakan soal di subtes hitungan ini.

Tes yang terakhir adalah penalaran/logika. Tes ini aku anggap paling sulit, soalnya aku bingung dengan logika dan gambar-gambar, ketahuan lah kalau logikanya tidak jalan, sering baper, terbawa perasaan, eh. Meski aku tidak suka, mau ga mau ya harus belajar untuk mencuri poin di tes ini. Tes penalaran terdiri dari logika formal 15 soal, penalaran analitis 15 soal, keruangan 15 soal, dan penalaran logis 25 soal. Prioritas yang aku kerjakan adalah logika formal, penalaran keruangan, penalaran logis, dan yang terakhir penalaran analitis. 

   2. Disiplin dengan waktu

Ini penting karena kita merasa bisa mengerjakan, kita merasa soal ini mudah, namun kita lupa waktu. Iya kalau waktunya tidak dibatasi, sepertinya kita bisa mengerjakan soal semuanya. Yang bikin gemas dan penasaran itu di soal-soal kuantitatif. Ah soal ini bisa, tapi kalau dihitung dengan cara biasa itu akan memakan waktu. Apalagi kalau masih penasaran, belum ketemu juga jawabannya. Bagaimanapun kita harus memperhatikan waktu. Ingat kita harus mengerjakan 90 soal kuantitatif dalam waktu 60 menit.

Yang harus kita lakukan adalah disiplin terhadap waktu. Aku alokasikan untuk masing subtes itu 15 menit, mau selesai tidak selesai pokoknya begitu 15 menit pindah ke subtes selanjutnya. Bisa jadi di subtes selanjutnya ada soal yang lebih mudah. Begitu terus sampai dengan subtes terakhir. Kuncinya disiplin waktu, jangan terjebak pada soal dan penasaran dengan jawabannya. Yang tidak terjawab biarkan saja. 

  3. Kalau tidak selesai bagaimana?

Sudah mengerjakan hingga tes terakhir, waktunya tinggal 5 menit dan belum selesai semuanya, apa yang harus kita lakukan? Untuk jawaban yang masih kosong aku isikan huruf B semua. Mengisikan satu jawaban yang sama untuk yang kosong, peluang benarnya lebih besar dibandingkan dengan mengisi secara acak. Belum kubuktikan sih, tapi sepertinya benar. Iyain ajalah ya, hehehehehe…

Hasilnya seperti apa?
Nah ini nih yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah si emak ini belajar sungguh-sungguh demi kesempatan terakhir dapat beasiswa dan dengan tips yang a la-a la tadi hasilnya adalah…

Alhamdulillah hasilnya di atas nilai minimal yang disyaratkan. Untuk emak anak lima yang sudah 15 tahun lalu lulus dari bangku kuliah, skor 684,80 patut untuk disyukuri. Kalau untuk kuantitatif memang dari dulu lebih dominan dibanding dengan jenis tes yang lain. Yang menarik adalah dulu ketika tes serupa di SMP (pastinya bukan TPA Bappenas), tes verbal itu nilainya paling kecil diantara kuantitatif dan penalaran.
Tetapi setelah 22 tahun berlalu (sejak lulus SMP), tes verbal jauh meningkat nilainya. Aku mikirnya sih mungkin berkah dari menulis opini. Ya, dengan membaca dan menuliskan kembali, akan banyak tambahan pengetahuan dan kosakata sehingga nilai verbalnya meningkat. Tapi kalau kata suami, nilai verbalnya meningkat karena menikah dengannya, hahahahahaha…iyain ajalah ya. Maksa banget.

Jadi itulah gaess, tips mengerjakan TPA ala emak-emak dan hasilnya. Kalau untuk Toeflnya cuma ngandalin belajar dari Youtube saja. Nilai Toeflku yang paling rendah di listening, entah karena pendengaranku yang kurang atau memang aslinya ga cakap, hehehehehe..
Aku kan pernah 5 kali kena malaria di Timika, dan minum obatnya kerass banget, ada yang harus diminum dalam 2 minggu. Dan setelah itu aku ngerasa pendengaranku berkurang, jangan-jangan ngaruh kesitu yakkk. Atau itu Cuma alasanku saja nilai listeningku rendah, hehehehehe. Yang pasti sih, aku jarang sekali ndengerin hal-hal yang berbahasa inggris gitu, baik lagu-lagu maupun pilem. Selain kurang suka, juga nggak sempet gaess.

Tapi aku bertekad akan meningkatkan keterampilan Bahasa Inggrisku ini, karena ada rencana dan target-target selanjutnya yang siap menanti. Doakan ya gaess, doakan juga ya makkk....

10 komentar:

  1. Like like like like likee.. emak2 gaul memang beda

    Selamat menempuh S2 Mbak Tasmilah semoga semakin berkah ilmunya aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terimakasih mbak Eka. sukses juga untuk mbak Eka.

      Hapus
  2. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.. Selalu mengagumi mbak Tasmilah dari setiap semangatnya.. Barakallah. Semoga Allah memberikan kelancaran dan keberkahan dalam menuntut ilmunya. Aamiin.

    BalasHapus
  3. Logika formal it yg kayak gmn mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang silogisme itu, premis mayor, minor, kesimpulan.

      Hapus
  4. makasih sudah sharing mbak

    mohon info buku yang dipake belajar kemarin mb, saya bingung mau milih yang mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan mampir ke blog. Semoga bermanfaat.
      Saya beli buku TPA standar oto bappenas, penulisnya muhammad amien, penerbit Genta Group

      Hapus

#113 Resesi dan Ketenagakerjaan

 (Dimuat di Koran Republika, 5 Oktober 2020)