Selasa, 14 Juli 2020

Mengejar Beasiswa di Usia yang Tak Lagi Muda



sumber foto: ayokuliah.id
Bisa kuliah lagi dengan beasiswa bisa jadi hal biasa bagi sebagian orang. Bahkan beberapa teman sejawatku sudah ada yang melanjutkan ke jenjang strata 3 atau doktoral.  Tapiiiiiiii bagiku, bisa kuliah itu merupakan hal yang istimewah karena sudah aku nantikan sejak 15 tahun yang lalu. Banyangkan gaesss, 15 tahun menantiii. Trus akan ada yang komentar, apa sih susahnya kuliah lagi? Tinggal daftar saja, toh tiap tahun BPS (tempat saya bekerja) menyediakan puluhan beasiswa ke kampus TOP di negeri ini.

Setiap tahun ketika satu per satu teman seangkatan sudah melanjutkan kuliah lagi ada rasa ikut senang dan berharap suatu saat aku bisa menyusulnya. Memelihara semangat untuk bisa sekolah lagi di sela-sela hamil melahirkan menyusui, hamil melahirkan menyusui, hamil melahirkan menyusui, hamil melahirkan menyusui, dan hamil melahirkan menyusui (aku ulang 5 kali karena anaknya 5), terus aku lakukan dengan berharap suatu saat bisa sekolah lagi. Entah kapan waktunya. 

Trus menyesal gitu nikah muda? Ya enggak dooooong, hahahaha.. Itulah yang sering terjadi pada kita, eh aku maksudnya. Terkadang terlalu sibuk dengan target yang belum dicapai, tapi lupa mensyukuri apa yang sudah kita peroleh. Alhamdulillah dikaruniai lima anak yang sholeh dan sholihah (insyaallah, aamiin Ya Allah), yang bisa jadi di-irikan oleh orang lain.  Alhamdulillah dimudahkan menulis opini hingga 107, yang bisa jadi juga diinginkan oleh orang lain. Nah..

Delapan tahun di Timika, 5 tahun di Kota Serang tidak memungkinkan untuk kuliah dalam kota, dengan beasiswa. Karena di dua kota tersebut tidak ada kampus yang menyediakan beasiswa APBN BPS maupun Bappenas. Kenapa ga keluar kota saja? Toh banyak juga ibu2 yang kuliah lagi dengan membawa anak-anaknya. Mereka juga bisa. Si ini bawa 4 anaknya, si anu bahkan sampai hamil dan melahirkan pada waktu kuliah. Terus terang aku akui mereka adalah ibu-ibu yang hebatt, luar biasa.

Bagiku, eh bagi kami ding karena sudah berkeluarga dengan 5 anak, hihihihi.. Bukan soal bisa atau tidak bisa, tapi karena komitmen kami untuk selalu bersama kemanapun dan dimanapun. Selama masih bisa diusahakan tentunya. Setiap keluarga tentu memiliki kebutuhan dan prioritas yang berbeda-beda. Dan perkara kuliah ini adalah sesuatu yang bisa direncanakan bukan sesuatu yang mendadak tiba-tiba seperti dapat undian berhadiah dan sebagainya.

Bahkan ketika motivasi dari teman-teman itu semakin kuat untuk segera kuliah lagi, jurus pamungkasku adalah insyaallah aku akan kuliah lagi (dengan beasiswa). Namun dengan syarat yaitu jika Allah manaqdirkanku pindah ke kota yang ada kampus penerima beasiswa APBN BPS maupun Bappenas. Hei kawan, masih ingatkah dialog ituh?

Belum bisa kuliah lagi itu pulalah yang mendorongku untuk menulis opini di media. Supaya pengetahuan bisa bertambah, supaya ada yang bisa aku hasilkan meskipun belum bisa kuliah lagi. Dan suami pun sangat paham, betapa besar keinginanku untuk bisa kuliah lagi, dengan beasiswa. Beberapa kali beliau menawari untuk kuliah di kampus negeri dalam kota, tidak dengan beasiswa. Aku tidak mau, aku mau kuliah lagi dengan beasiswa, Teteupp ya keukeuh dengan beasiswa. Aku mikirnya kalau mau kuliah lagi bayar sendiri, itu masih bisa nanti ketika umur sudah melewati batas penerima beasiswa S2, yaitu 37 tahun.

Semakin bertambah usia melewati umur 35 tahun, pada akhirnya terucap, jika akhirnya tidak kesampaian bisa kuliah lagi (dengan beasiswa teuteup) sampai dengan pensiun nanti tidak akan pernah aku sesali. Kerelaan atas konsekuensi dari setiap pilihan inilah yang menjadikan hati lebih ringan, maaf jika sok bijak ya teman.

Hingga pada akhirnya, suami bermaksud pindah lagi ke Jawa Timur agar lebih dekat dengan orang tuanya di Madiun. Pilihan paling dekat adalah Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya atau Stasiun Meteorologi Tuban. Diajukanlah dua pilihan tersebut. Daaaaaan tenyata saudara-saudara, suami ditawarinya ke stasiun Klimatologi Karangploso, Malang. Sebuah tempat yang tidak ada sama sekali dalam pembahasan kami sebelumnya. Padahal semua pegawai BMKG se Indonesia Raya juga tahu kalau mau pindah ke Staklim Malang itu susah pakai bangett, buanyakkk yang ngantri, pokoknya favorit banget ini Malang. Dan alhamdulillah mertua juga tidak keberatan kami pindah ke Malang, sing penting sudah di Jawa Timur katanya. Hhhmm begitulah orang tua.

Dengan pindahnya suami ke Malang inilah yang membangkitkan semangatku untuk kuliah lagi (dengan beasiswa). Pilihannya ke Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, dengan beasiswa Bappenas. Bersyukur kepadaMu, ternyata Engkau antarkan kami pindah ke Malang agar hambamu yang lemah ini bisa kuliah lagi (dengan beasiswa).

Ketika pengumuman akhir dan namaku tercatat salah satu diantaranya, aku bilang ke suamiku; terimakasih ya mas, maafkan aku jika selama ini mengeluh belum bisa kuliah lagi. Ternyata hanya perlu bersabar saja, karena jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Bahkan Allah antarkan kami pindah sekeluarga ke Malang, agar ummi bisa kuliah lagi, di umur yang tidak lagi muda. Di umur 37 tahun kurang 2 bulan, akhirnya ummi bisa sekolah lagi, dengan beasiswa, dengan teman sekelas kelahiran tahun 1992. Alhamdulillah aku bisa belajar dari anak-anak muda nantinya. 

Jadi, jalani peranmu dengan sepenuh hati. Bisa jadi jalan hidupmu mendekati apa yang kamu cita-citakan.

Trus bagaimana mbak Tas belajar TPA nya, kan susah tuh TPA Bappenas? Apalagi sudah tidak muda lagi. Apalagi sudah turun mesin lima kali. Nantikan di postingan selanjutnya ya gaess, kiat belajar TPA ala emak-emak…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertanian Untuk Masa Depan

Pandemi covid-19 yang terjadi tahun ini mendorong FAO untuk mengeluarkan peringatan terjadinya krisis pangan di dunia. Jika pada tahun – ...