Rabu, 11 November 2015

Kelaparan di Tengah Gunung Emas


Tanah Papua Tanah Yang kaya
Syurga Kecil Jatuh Ke Bumi
Seluas Tanah Sebanyak Madu
Adalah Tanah Harapan     
(Aku Papua oleh Frangky Sihalatua)
Penggalan bait lagu di atas merupakan ungkapan bagaimana Tanah Papua merupakan tanah yang kaya dan indah. Kaya akan keanekaragaman hayati dan kaya akan sumber daya alam. Tanah Papua kaya karena mengandung cadangan emas dan tembaga terbesar di Indonesia. Kekayaan alam tersebut dikelola oleh PT. Freeport Indonesia, salah satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.

            Di tengah kegaduhan politik negeri ini tentang perpanjangan kontrak karya PT. Freeport Indonesia dalam pengelolaan tambang emas dan tembaga di Papua, muncul berita tentang kelaparan dan kematian 32 orang dewasa dan balita secara mendadak di Kabupaten Nduga, Propinsi Papua. Kepada media, ketua Klasis Nduga mengungkapkan bahwa awal terjadinya kematian masyarakat di Distrik Mbua karena kelaparan dan perubahan cuaca hingga terserang penyakit. Selain itu, hasil kebun masyarakat yang tidak berhasil, dan banyaknya hewan ternak seperti babi dan ayam yang mati. Warga pun memakan daging ternak yang sudah mati itu. Perubahan cuaca juga mengakibatkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan lain-lain, membuat masyarakat khususnya anak-anak bayi dan balita, yang daya tahan tubuhnya kurang karena kekurangan gizi sehingga lebih mudah terkena penyakit. Menjadi sebuah ironi, karena musibah ini terjadi di tanah Papua yang kaya. Hal ini menyisakan pertanyaan betapa kekayaaan alam Papua belum memberikan manfaat bagi masyarakat lokal di sana.
Selama lebih dari 48 tahun, kandungan emas dan tembaga di perut bumi Papua telah di eksploitasi oleh PT. Freeport Indonesia.  Selama kurun waktu tersebut perusahaan ini diakui telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian lokal maupun nasional. Pada tahun 2014, sektor pertambangan memberikan kontribusi terhadap perekonomian di Kabupaten Mimika sebesar 70,59 persen dan 22,77 persen terhadap perekonomian Papua. Sumbangan besar terhadap perekonomian ini menjadikan sektor–sektor ekonomi yang lain ikut tumbuh dan berkembang. Namun pertumbuhan ekonomi ini tidak dibarengi dengan pembangunan ekonomi seperti yang diharapkan.
Hal ini masih terlihat dari tingkat kemiskinan di Kabupaten Mimika yang masih tinggi dan bahkan angka kemiskinan di Papua masih memegang rekor tertinggi di Indonesia dengan jumlah penduduk miskin pada Bulan Maret 2015 sebanyak 28,17 persen atau meningkat 0.36 persen poin dalam enam bulan. Dari segi pembangunan infrastruktur di Papua juga masih tertinggal jika dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia. Demikian juga untuk pembangunan manusia, angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Propinsi Papua pada tahun 2014 sebesar 56,75 jauh dibawah angka IPM nasional yang nilainya sebesar 68,90. Nilai IPM Propinsi Papua ini menempati rangking terakhir di Indonesia.
Dalam nawacita (sembilan agenda) Presiden Jokowi  disebutkan salah satu agendanya adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa, membangun Indonesia dari pinggiran, dan meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Dengan kenyataan di atas, terlihat betapa negara belum sepenuhnya hadir di pedalaman Papua. Kondisi alam yang ekstrim serta  kondisi sosial masyarakat seolah menjadi tantangan tersendiri bagi kehadiran negara dalam pembangunan di tanah Papua.
Meskipun demikian, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk menyerah sehingga mengesampingkan masa depan putra putri Papua. Kenyataan seperti itu, seharusnya malah memacu pemerintah agar lebih memastikan hadirnya negara dalam pembangunan di Papua. Pembangunan infrastruktur dan akses transportasi harus tetap menjadi prioritas utama, karena hal ini akan mempermudah distribusi barang kebutuhan masyarakat selain juga mempermudah akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Tanpa itu, ekonomi dengan biaya tinggi akan tetap terjadi di Papua. Terlebih lagi pada saat terjadi bencana kelaparan akibat gagal panen seperti saat ini, pemerintah akan selalu terlambat mengatasinya. Apalagi dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki Papua, seharusnya tidak ada alasan potensi tersebut tidak bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Pegunungan Papua yang mememdam berton-ton emas dan tembaga jangan sampai hanya menyisakan pencemaran limbah, kemiskinan, kelaparan dan keterbelakangan bagi penduduknya.
Sembari membangun infrastruktur yang baik dan itu tidak mungkin bisa terwujud dalam waktu dekat, ada satu hal utama yang tidak boleh dilupakan yaitu manajemen ketersediaan pangan di Papua, terutama di daerah pedalaman. Belajar dari peristiwa kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, bisa jadi peristiwa serupa yang telah terjadi di Papua juga akan berulang. Mengingat sekarang tengah gencar pembukaan lahan baru di Papua untuk perkebunan kelapa sawit. Jika kebakaran hutan tersebut juga terjadi berulang di  Papua, dampaknya akan fatal. Alat transportasi udara yang merupakan transportasi vital bisa terganggu dan mengakibatkan terganggunya distribusi bahan pokok. Akibatnya, bencana kelaparan bisa berulang jika tidak disertai dengan manajemen ketersediaan pangan yang baik di wilayah pedalaman Papua. Terlebih ketika terjadi musim kemarau panjang yang mengakibatkan gagal panen, diperlukan pengadaan pangan terutama beras dengan memperhitungkan konsumsi per kapita, jumlah penduduk, dan perkiraan jangka waktu musim kemarau. Beras sangat diperlukan pada saat gagal panen, karena sifatnya yang tahan lama dan distribusinya lebih mudah. Namun, jika diluar waktu tersebut diversifikasi pangan bisa dilakukan, karena makanan pokok sehari hari masyarakat pedalaman Papua adalah umbi umbian seperti ubi dan petatas (talas). Dengan pengaturan seperti itu harapannya tidak akan terjadi lagi bencana kelaparan di Papua pada masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#104 Korona dan Panic Buying

(Dimuat di Republika, 6 Maret 2020) Pasca diumumkannya 2 kasus positif Corona di Indonesia sontak membuat penduduk Indonesia panik. Tem...