Selasa, 16 April 2019

#88 Ujian Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi penyumbang perekonomian Indonesia dengan devisa yang terus meningkat setiap tahun. Terlebih ketika neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dalam beberapa bulan terakhir, maka sektor pariwisata diharapkan menjadi tulang punggung dalam pengumpulan devisa negara.


Tidak hanya mendorong perekonomian, sektor pariwisata ini juga mampu membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk. Perekonomian Bali misalnya, yang didukung oleh pariwisata mampu menorehkan tingkat kemiskinan nomor dua terendah di Indonesia setelah DKI Jakarta.



Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan pertumbuhan pariwisata Indonesia menduduki peringkat ke-9 tercepat di dunia. Dengan kenyataan tersebut tidak mengherankan jika sektor pariwisata digadang menjadi ekonomi unggulan pada masa yang akan datang. Lebih-lebih karena harga komoditas utama Indonesia (CPO) mengalami penurunan dan diskriminasi di Uni Eropa, serta sektor industri pengolahan yang terus mengalami penurunan kontribusi dalam pembentukan PDB.




Bencana Alam


Namun, bersinarnya industri pariwisata tidak terlepas dari ujian dengan adanya bencana alam seperti gempa Lombok dan Tsunami di Selat Sunda. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisman ke Indonesia. Padahal pemerintah tengah meluncurkan 10 destinasi wisata baru, yang diharapkan dapat mengikuti kesuksesan pariwisata Bali. 



Gempa Lombok pada Agustus 2018 telah menurunkan kedatangan wisman hingga 61,46 persen pada September 2018 (dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya). Gempa tersebut juga telah menurunkan tingkat hunian hotel bintang hingga 18,47 persen di Provinsi NTB.



Bahkan ketika pariwisata Lombok tengah mulai bangkit lagi dengan mencatatkan kenaikan jumlah kunjungan wisman 68,85 persen pada Februari 2019, Lombok kembali diuji lagi dengan gempa pada Maret lalu. Hal ini tentu menjadi pukulan bagi sektor pariwisata Lombok, apalagi terdapat wisatawan asing yang meninggal karena tertimbun longsor akibat gempa tersebut. 



Kenaikan Tarif Penerbangan



Tidak hanya berpengaruh terhadap wisman saja, berbagai bencana alam juga berimbas pada kunjungan wisatawan nusantara. Bahkan ujian untuk wisatawan nusantara makin bertambah dengan adanya kenaikan tarif penerbangan domestik. 



Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi lonjakan jumlah wisatawan nusantara. Hal ini seiring dengan kenaikan jumlah kelas ekonomi menengah di Indonesia dan pergeseran kebutuhan hidup milenial dari good basic consumption menjadi leisure economy berupa pengalaman dan hiburan. Peluang ini ditangkap oleh maskapai berbiaya rendah dengan menawarkan tarif tiket pesawat murah untuk berbagai tujuan domestik di Indonesia. 



Namun, era setiap orang bisa terbang ini tampaknya harus diuji dengan kenaikan harga tiket pesawat domestik. Rasionalisasi tarif yang dilakukan oleh beberapa maskapai telah mengerek harga tiket pesawat. Hal ini tentu saja menurunkan jumlah penumpang domestik. 



Berdasarkan Berita Resmi Statistik dari BPS, jumlah penumpang angkutan udara domestik periode Januari-Februari 2019 mengalami penurunan 15,38 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018. Penurunan terbesar terjadi pada Bandara Kualanamu Medan, Bandara Hasanudin Makasar, dan Bandara Juanda Surabaya.



Hal sebaliknya terjadi pada penerbangan internasional yang mengalami kenaikan 7,38 pada periode yang sama. Dengan kenyataan ini dikhawatirkan penduduk Indonesia lebih memilih perjalanan wisata ke luar negeri dengan harga tiket yang hampir sama.



Kenaikan harga tiket pesawat ini juga telah mendorong inflasi dalam tiga bulan terakhir. Bahkan ketika harga bahan makanan mengalami deflasi, transportasi udara justru memberikan andil inflasi dalam 0,03 persen (Maret, 2019). Selain itu kenaikan harga tiket pesawat dan tarif bagasi telah menurunkan penjualan oleh-oleh dan produk UMKM dari berbagai daerah wisata. Kondisi ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian di daerah wisata. 



Keseimbangan Baru



Jika bencana alam seperti gempa dan tsunami merupakan ujian pariwisata yang tidak bisa ditolak dan diprediksi, maka untuk bencana alam yang disebabkan oleh kelalaian manusia hendaknya bisa dihindari. Demikian juga faktor eksternal seperti tingginya tarif angkutan udara bisa segera diturunkan untuk mencapai keseimbangan baru. Dari pihak maskapai tidak mengalami kerugian, demikian juga dari penumpang akan terjamin keselamatannya. Termasuk peran pemerintah dengan menaikkan batas bawah tarif angkutan udara dan penurunan harga avtur sebagai bahan bakar pesawat, diharapkan mampu menggeliatkan kembali pariwisata domestik. 



Banjir di Bandung maupun banjir bandang di Sentani seyogianya bisa dihindari. Bandung yang terkenal sebagai Paris Van Java telah menjadi salah satu tujuan wisatawan nusantara. Pengelolaan sampah, penataan kota, dan pembangunan ekonomi harus memperhatikan dampak lingkungan untuk meminimalisasi bencana alam yang terjadi. Diperlukan kesadaran dari seluruh penduduk untuk meminimalisasi penggunaan sampah plastik dan tidak membuangnya secara sembarangan. 



Pengelolaan sampah yang salah selain mencemari lingkungan juga akan menurunkan daya tarik wisata. Sebagaimana dikeluhkan oleh wisatawan dari China atas Pantai Kuta yang dipenuhi oleh banyak sampah yang berserakan. Selain itu, sampah yang berada di lautan Indonesia selain mengganggu ekosistem juga mengganggu penyelam untuk menikmati keindahan bawah laut. Kenyataan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua terbesar sebagai pembuang sampah plastik ke laut merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika hal ini tidak segera diatasi, diperkirakan pada 2030 jumlah sampah akan lebih banyak dibandingkan jumlah ikan di laut Indonesia.



Sektor pariwisata juga berpotensi besar dalam pemerataan ekonomi Indonesia. Jika selama ini pertumbuhan ekonomi berpusat di kota-kota besar, maka sektor pariwisata ini memungkinkan untuk menjangkau hingga pelosok Nusantara. Terlebih Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang memukau bagi wisatawan. Apakah orang akan berbondong-bondong ke Papua Barat jika tidak ada Raja Ampat yang eksotis di sana? 



Potensi pariwisata Indonesia akan mendorong pertumbuhan infrastruktur dan fasilitas hiburan di daerah-daerah pelosok Indonesia. Selain itu potensi ekonomi yang ditimbulkan akan menarik investor untuk menanamkan modalnya guna membangun berbagai amenitas. Dengan pengembangan pariwisata, tidak hanya konektivitas yang akan tercipta, namun juga terbukanya lapangan kerja bagi penduduk. Dengan munculnya sumber pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah akan memungkinkan tercapainya pemerataan kesejahteraan penduduk di Indonesia.

(Dimuat pada Kolom Detiknews, 12 April 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#96 Kemiskinan dan Harga Diri

Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi miskin atau dari keluarga/negara miskin. Pun ketika kemiskinan tersebut dirend...