Senin, 18 Februari 2019

#82 Mengentaskan Kemiskinan Di Perdesaan


Di akhir masa jabatan pada periode pertamanya,  Presiden Joko Widodo juga bisa bernapas lega karena telah berhasil mengentaskan 5.618 desa tertinggal dalam waktu 4 tahun. Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang meningkat dalam 4 tahun terakhir membuktikan bahwa prioritas pembangunan dari perdesaan/pinggiran telah memberikan hasil yang positif. Demikian juga dengan tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan 0,28 juta jiwa. Meski jumlah penduduk miskin menurun,  namun kemiskinan di perdesaan masih tinggi yaitu sebesar 13,10 persen (September 2018).
Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun 2014, indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan di perdesaan mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan sebesar 2,25 dan meningkat pada tahun 2018 menjadi 2,32. Untuk indeks keparahan kemiskinan pada tahun 2014 sebesar 0,57 dan meningkat menajdi 0,62 pada tahun 2018. Sedangkan untuk wilayah perkotaan, indeks keparahan maupun kedalaman kemiskinan mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir. Artinya bahwa kinerja penurunan kemiskinan di perkotaan lebih efektif dibandingkan dengan perdesaan.

Dengan meningkatnya indeks kedalaman kemiskinan menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perdesaan semakin menjauhi garis kemiskinan. Sedangkan peningkatan indeks keparahan kemiskinan menunjukkan ketimpangan antar penduduk miskin di perdesaan semakin melebar dalam 4 tahun terakhir. Kenyataan ini menyebabkan semakin sulitnya pengentasan penduduk miskin di perdesaan.
Upaya untuk mengentaskan kemiskinan di perdesaan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan penduduk melalui penciptaan lapangan kerja baru dan meningkatkan produktifitas penduduk. Jika selama ini penggunaan dana desa lebih banyak untuk pembangunan infrastruktur, maka anggaran untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan. Hal ini dimaksudkan agar muncul SDM yang mampu bersaing di pasar tenaga kerja ataupun mampu membangun usaha sendiri berbekal kreativitas.
Memberikan pelatihan wirausaha yang memanfaatkan teknologi informasi untuk memproduksi barang maupun jasa kemudian memasarkannya secara online sangat diperlukan. Tentu akan lebih banyak pekerjaan ataupun usaha yang dapat digeluti melalui teknologi digital. Terlebih dengan dukungan jaringan internet yang semakin menjangkau hingga perdesaan. Hingga kini menurut data Kominfo, sebanyak 73 persen perdesaan di indonesia telah memiliki koneksi jaringan ineternet 3G. Menyongsong tahun 2020, pemerintah telah menargetkan aksesbilitas layanan seluler dan atau internet di seluruh Indonesia.
Persoalan yang lain adalah meski tingkat pengangguran di desa lebih rendah dibandingkan perkotaan, namun produktivitasnya juga rendah. Sama-sama bekerja namun nilai tambah yang dihasilkan di perdesaan nilainya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan perkotaan. Kenyataan inilah yang mendorong penduduk desa untuk melakukan urbanisasi ke kota.
Oleh karena itu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di desa dengan pemberdayaan ekonomi desa melalui BUMDes maupun Produk Unggulan Desa (Prukades) perlu lebih banyak dilakukan. Selain itu, memindahkan industri pengolahan hasil pertanian ke desa diyakini mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan penduduk perdesaan. Harapannya kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia akan merata dan ketimpangan pendapatan juga akan semakin menyempit.
Potensi Desa
Salah satu potensi unggulan yang dimiliki oleh desa/kelurahan adalah daya tarik wisata. Pendataan Podes 2018 mencatat bahwa ada 1.734 desa/kelurahan wisata di seluruh Indonesia. Desa/kelurahan wisata menurut pendataan Podes 2018 adalah sebuah kawasan perdesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Keberadaan desa wisata diatur/ ditetapkan dalam peraturan daerah (Perda) setempat. Pada umumnya, penduduk di kawasan desa wisata memiliki tradisi dan budaya yang khas, serta alam dan lingkungan yang masih terjaga.
Pengembangan dan pemanfaatan sektor pariwisata ini terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk. Hal ini dibuktikan oleh Provinsi bali, dimana tingkat kemiskinannya menduduki peringkat terendah kedua setelah DKI Jakarta. Kemiskinan di Provinsi Bali sebesar 3,91 persen mengalahkan provinsi lainnya tidak terkeculi 5 provinsi di Pulau Jawa.
Desa wisata paling banyak di Pulau Jawa dan Bali dengan jumlahnya mencapai 857 desa/keluarahan, disusul Pulau Sumatra sebanyak 355 desa/kelurahan, dan paling sedikit di Kepulauan Maluku dengan jumlah 23 desa/kelurahan.
Desa wisata telah mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Terlebih dengan gaya hidup milenial dan generasi Z yang begitu gandrung dengan aktifitas leisure economy. Liburan dengan penuh pengalaman seru hingga layak diabadikan kemudian dibagikan di media sosial telah menjadi suatu kebutuhan saat ini. Lihatlah antrian orang untuk bisa berfoto dengann sepeda gantung di Lembang Bandung, atau bermain ayunan dalam air di Umbul Ponggok Klaten. Atau yang lebih mendunia lagi, desa Ubud di Bali tempat dimana aktris Julia Roberts bersepeda menikmati alam yang indah dalam film Eat, Pray, n Loves. Semua pengalaman tersebut kini menjadi sebuah kebutuhan hidup modern. Sehingga desa sebagai wilayah yang masih menyimpan keindahan alam dan budaya harus bisa menangkap dan memanfaatkan peluang tersebut.
Keberadaan desa wisata ini telah mampu meningkatkan denyut perekonomian di perdesaan. Penciptaan lapangan kerja baru hingga peningkatan pendapatan penduduk telah berjasa dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan di perdesaan. Diperlukan kreatifitas dari anak muda untuk mengubah desa menjadi tempat wisata yang menarik. Bahkan aktifitas penduduk desa pun kini bisa menjadi daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik. Kegiatan membatik hingga membuat kerajinan barang dari kulit telah menjadi pengalaman baru yang mampu menarik pengunjung untuk berbelanja.
Tentu setiap desa memiliki keunikan serta keragaman baik dari adat istiadat, budaya, mata pencaharian lokal, hingga pesona alam yang bisa dijual untuk menarik wisatawan. Namun satu yang tidak kalah penting adalah bagaimana mempromosikan keunggulan desa melalui media sosial. Kemampuan membranding desa ini akan sukses apabila dikerjakan oleh tangan-tangan kreatif yang melek media digital. Oleh karena ini pelatihan atau mengembangan SDM di wilayah perdesaan harus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang semakin berkembang.

(Dimuat di Harian Bhirawa, Februari 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#92 Masa Depan Bisnis Retail

Berita tentang tutupnya 6 gerai Giant di Jakarta menambah catatan suram bisnis ritel di Indonesia. Setelah pada tahun sebelumnya grup He...