Rabu, 07 November 2018

# 80 Perempuan, Kerja, dan Teknologi


Salah satu kegiatan dalam gelaran pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia (World Bank) di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018) adalah seminar Empowering Women in the Workplace, Selasa (9/10/2018). Seminar tersebut membahas tentang pemberdayaan perempuan di dunia kerja.
Dalam seminar yang mempertemukan para perempuan hebat dunia tersebut, Sri Mulyani mengusulkan agar kegiatan mengurus rumah tangga, seperti merawat anak, dimasukkan sebagai komponen Produk Domestik Bruto (PDB) karena nilainya sangat tinggi dan penting. Namun, aktivitas ekonomi tersebut menjadi hampir tak ada nilainya dalam komponen penghitungan PDB. Hal ini senada dengan pendapat Sri Moertiningsih Adioetomo (Opini Kompas, 2017) bahwa kegiatan domestik perempuan sebenarnya mempunyai nilai ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Konsep perempuan ”bekerja” sudah harus diteliti lagi dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Bekerja bagi perempuan tidak harus keluar rumah.
Tantangan di atas dijawab oleh Direktur IMF, Christine Lagarde "Kami akan mengadakan konferensi statistik di November di mana kami mencari cara untuk mengumpulkan data-data yang belum dicatat dalam komponen PDB [termasuk pekerjaan rumah tangga],". Selain itu Lagarde lebih banyak menyoroti mengenai kondisi pekerja perempuan yang saat ini tengah menghadapi era teknologi tinggi (high-tech). Paparan teknologi tinggi tersebut tentu akan berpengaruh cukup besar terhadap keberadaan perempuan dalam angkatan kerja. Efek ini bukan karena perempuan bersifat minoritas, akan tetapi karena mereka bekerja dalam bidang pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Sehingga teknologi akan menggusur lapangan kerja bagi perempuan.
Tidak dapat dipungkiri transisi demografi ketiga telah mendorong banyak perempuan untuk beraktifitas ekonomi keluar rumah. Kondisi ini tidak jarang mengakibatkan anak dan orang tua lanjut usia menjadi pihak yang dikorbankan. Kebersamaan anak dan orang tua sedikit banyak terenggut waktunya hingga menurunkan kebahagiaan anak.
Anak yang bahagia, akan lebih optimal perkembangannya. Dan ini membutuhkan peran seorang perempuan. Peranan ibu dimulai dari 1.000 hari pertama kehidupan, di mana kemampuan kognitif anak terbentuk sejak janin dalam kandungan. Kemudian ibu juga akan bertanggungjawab dalam tumbuh kembang anak hingga memasuki dunia kerja sehingga mampu menggantikan angkatan kerja saat ini yang belum menguntungkan.
Dengan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah bagi perempuan yang terus meningkat setiap tahun menjadikan perempuan semakin berkualias secara pendidikan. Kondisi ini tentu mendorong perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia kerja. Namun ketika berkeluarga, perempuan dihadapkan pada posisi yang sulit. Dorongan untuk bekerja dan tarikan untuk mendidik putra-putrinya semakin kuat pertentangannya. Terlebih saat ini semakin sulit untuk mencari pengasuh yang mumpuni, sedangkan di sisi yang lain biaya pengasuhan juga semakin meningkat.
Kondisi dilema ini semakin menjadi manakala kebutuhan hidup keluarga juga semakin tinggi sedangkan penghasilan dari pasangan sebagai penopang nafkah keluarga belum mencukupi. Keinginan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra putrinya, hingga fasilitas kesehatan yang berkualitas mendorong perempuan untuk menambah penghasilan keluarga.
Namun tidak semua perempuan harus keluar rumah untuk memasuki lapangan usaha formal. Tidak perlu juga dibenturkan antara peran perempuan dalam keluarga dan perannya di luar rumah. Ada peran perempuan yang tidak bisa diwakilkan dalam keluarga. Ada tanggungjawab dalam mengasuh dan mendidik anak sebagai generasi penerus bangsa.
Segala peluang bonus demografi sering dibahas, namun syarat-syarat yang harus menyertainya sering kali dilupakan. Meningkatnya penduduk usia produktif yang cepat belum diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Secara usia masuk produktif, namun secara kemampuan dan daya saing sangat rendah. Terlebih di era digital seperti sekarang, generasi milenial yang lekat dengan teknologi serba cepat telah menjadikannya kurang memiliki daya relisien (kuat dan tangguh). Peranan ibu dalam pembentukan karakter anak di dalam keluarga sangat menentukan keberhasilan anak di kemudian hari. Proses pembentukan tersebut lebih banyak ada di dalam keluarga sebagai pondasi pertama dan utama dalam kehidupan bernegara.
Usia produktif yang tidak menguntungkan akan semakin menambah beban pemerintah karena menciptakan pengangguran yang tinggi. Sebagai gambaran, pengangguran tertinggi didominasi oleh penduduk usia dengan pendidikan SMA dan SMK. Bahkan, jika dirinci menurut kelompok umur milenial, semakin muda usia milenial kian tinggi angka penganggurannya, yang sekaligus menunjukkan semakin sulit memperoleh pekerjaan. Namun terbukanya jendela peluang yang melebar menjadi 2020-2040, 10 tahun lebih panjang dari semula agaknya cukup waktu untuk membentuk modal manusia berkualitas dan berkarakter yang dimulai dari peranan ibu dalam keluarga.
Saat ini justru yang harus didorong adalah penciptaan usaha informal bagi perempuan. Hal ini dimaksudkan agar perempuan dapat aktif secara ekonomi meski sudah memasuki gerbang pernikahan. Bagi perempuan kelas menengah atas yang melek teknologi, bekerja dari rumah merupakan pilihan yang banyak dinikmati. Bahkan di era teknologi informasi yang semakin canggih sekarang banyak peluang pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah sambil mengasuh anak yang sehat, berkualitas, berkarakter, serta berintegritas tinggi. Menjadi seorang penulis, programmer, desainer, content writer, ataupun pedagang online merupakan pilihan pekerjaan yang mampu meningkatkan penghasilan perempuan.
Sedangkan bagi perempuan pekerja formal, dibutuhkan dukungan penuh dari institusi sangat diperlukan. Jika ruang laktasi sudah menjadi kebutuhan hampir di semua tempat kerja, maka pengaturan jam kerja juga harus lebih ramah bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Hal ini supaya mereka dapat bekerja dengan nyaman dan dapat menunjukkan seluruh potensi yang ia miliki tanpa harus mengorbankan keluarga. Demikian juga dengan upah antara laki-laki dan perempuan harus adil sesuai dengan pendidikan dan beban kerja, karena masih ada perbedaan besarnya upah antara laki-laki dan perempuan (Sakernas, Februari 2018).
 Selain itu, kebutuhan akan peningkatan pendidikan dan keterampilan perempuan mutlak diperlukan. Tidak selamanya kondisi ideal akan selalu dinikmati oleh perempuan. Ada sebanyak 15,07 persen perempuan berstatus sebagai kepala rumah tangga yang disebabkan oleh perceraian maupun kematian pasangannya. Bahkan dari seluruh rumah tangga miskin di Indonesia, ada sebanyak 16,12 persen rumah tangga miskin yang dikepalai oleh perempuan. Kondisi inilah yang memaksa perempuan untuk bergerak guna memenuhi kebutuhan sosial ekonomi keluarganya.
Pada akhirnya yang harus dipahami bagi seorang perempuan baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja bahwa tanggungjawab pengasuhan dan pendidikan anak ada pada pundaknya. Apapun aktifitas ibu di luar rumah, pendidikan dan pengasuhan anak menjadi prioritas utamanya. Peranan ibu dalam keluarga sangat diperlukan dalam pembentukan modal sumber daya manusia. Semua berawal dari ibu dan keluarga untuk menciptakan bonus demografi kedua di mana angkatan kerjanya berkualitas dengan produktivitas yang tinggi.

(Dimuat Di Kolom Detiknews.com, 7 November 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#96 Kemiskinan dan Harga Diri

Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi miskin atau dari keluarga/negara miskin. Pun ketika kemiskinan tersebut dirend...