Sabtu, 31 Maret 2018

#76 Perempuan Dan Kemiskinan

Perempuan memiliki arti penting dalam kehidupan bernegara karena separuh peradaban bangsa ini diisi oleh perempuan. Demikian juga dalam upaya-upaya pengentasan kemiskinan, keterlibatan perempuan mutlak diperlukan.

Isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan jangan hanya dimaknai sebagai bentuk perlawanan dan tuntutan dari kaum perempuan. Peningkatan kualitas perempuan baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun secara ekonomi menjadi sebuah keharusan. Hal ini karena kondisi ideal tidak selamanya dapat dinikmati oleh perempuan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebanyak 15,07 persen perempuan berstatus sebagai kepala rumah tangga yang disebabkan oleh perceraian maupun kematian pasangannya. Bahkan dari seluruh rumah tangga miskin di Indonesia, ada sebanyak 16,12 persen rumah tangga miskin yang dikepalai oleh perempuan. Kondisi inilah yang memaksa perempuan untuk bergerak guna memenuhi kebutuhan sosial ekonomi keluarganya.
Tidak semua perempuan harus keluar rumah untuk memasuki lapangan usaha formal. Tidak perlu juga dibenturkan antara peran perempuan dalam keluarga dan perannya di luar rumah. Ada peran perempuan yang tidak bisa diwakilkan dalam keluarga. Ada tanggungjawab dalam mengasuh dan mendidik anak sebagai generasi penerus bangsa.
Bagaimanapun juga, generasi produktif di era bonus demografi nanti tentu membutuhkan sentuhan tangan perempuan dalam proses pendidikan karakter yang unggul. Tentu semua menginginkan generasi penerus bangsa ini tidak hanya produkstif secara ekonomi namun juga memiliki karakter dan nilai moral yang luhur. Proses pembentukan tersebut lebih banyak ada di dalam keluarga sebagai pondasi pertama dan utama dalam kehidupan bernegara.
Saat ini justru yang harus didorong adalah penciptaan usaha informal bagi perempuan. Hal ini dimaksudkan agar perempuan dapat aktif secara ekonomi meski sudah memasuki gerbang pernikahan. Bagi perempuan kelas menengah atas yang melek teknologi, bekerja dari rumah merupakan pilihan yang banyak dinikmati. Bahkan di era teknologi informasi yang semakin canggih sekarang banyak peluang pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Menjadi seorang programmer, desainer logo, ghost writer, pedagang online, hingga menawarkan aneka jasa yang mampu meningkatkan penghasilan perempuan.
Jika perempuan kelas menengah atas lebih mudah masuk sektor usaha formal maupun informal, hal ini karena tingkat pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Namun bagaimana dengan perempuan dari kelas bawah yang pendidikan serta keterampilannya terbatas? Tidak terkecuali bagi perempuan dari keluarga miskin di Indonesia.
Perempuan secara fitrahnya mengandung, melahirkan, dan mengasuh anak. Mereka cenderung menjadi yang terakhir makan, yang paling tidak mungkin mengakses layanan kesehatan, dan secara rutin terjebak dalam tugas domestik yang memakan waktu dan tidak dibayar. Kondisi inilah yang menjadikan perempuan merupakan pihak yang paling rentan dalam semua dimensi kemiskinan. Terlebih jika kondisi ideal dalam keluarga ternyata jauh panggang dari api.
Ibarat menggarami lautan, apalah arti berbagai program pemberdayaan perempuan jika rendahnya kapabilitas menjadikannya tidak mampu melemparkan kail yang telah disediakan pemerintah. Peningkatan kapabilitas ini menjadi sebuah syarat bagi perempuan untuk keluar dari ketidakberdayaannya. Peningkatan kapabilitas ini bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan perempuan.
Hal ini bukan tanpa suatu alasan, mengingat tingkat kemiskinan di Indonesia masih stagnan pada angka 10 persen dalam tiga terakhir. Seolah berbagai upaya pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan pemerintah tidak berpengaruh besar dalam menurunkan angka kemiskinan. Bahkan keterlambatan dalam penyaluran beras sejahtera (rastra) bisa meningkatkan jumlah penduduk miskin, sebagaimana yang terjadi pada Bulan Maret 2017.
Mungkin ada satu yang kurang dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut yaitu pada keterlibatan perempuan. Perempuan berperan besar dalam alokasi pengeluaran rumah tangga miskin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Latin, bantuan tunai yang disalurkan kepada perempuan telah terbukti meningkatkan alokasi pengeluaran untuk anak-anak dan berpotensi mengurangi pengeluaran untuk alkohol dan tembakau.
Bagi indonesia ini bisa menjadi sebuah pelajaran, mengingat pengeluaran rokok pada keluarga miskin menempati urutan kedua terbesar setelah beras. Pengeluaran untuk rokok penduduk miskin di pedesaan mencapai 10,70 persen atau jauh melampaui pengeluaran untuk sumber protein sederhana seperti tahu dan tempe. Bukan rahasia umum jika konsumsi rokok akan menurunkan kualitas kesehatan yang berakibat menurunkan produktifitas secara ekonomi.
       Oleh karena itu, apapun bentuk bantuannya yang sifatnya tunai, bisa disalurkan kepada perempuan. Contoh program sosial yang penyalurannya sudah melalui perempuan adalah Program Keluarga Harapan (PKH). Sebuah langkah yang tepat jika tahun 2018 ini pemerintah menambah jumlah penerima PKH hingga 10 juta keluarga. Pengalihan lebih banyak sumber daya kepada perempuan akan meningkatkan derajat kapabilitas perempuan dan anak-anak di keluarga miskin. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesehatan perempuan, diharapkan mampu membawa keluarga miskin keluar dari kemiskinannya. Demikian juga dengan kualitas kesehatan dan pendidikan yang semakin baik, harapannya anak-anak dari keluarga miskin ini kelak tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya.
          Pengalihan lebih banyak sumber daya kepada perempuan akan meningkatkan derajat kapabilitas perempuan dan anak-anak di keluarga miskin. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesehatan perempuan, diharapkan mampu membawa keluarga miskin keluar dari kemiskinannya. Demikian juga dengan kualitas kesehatan dan pendidikan yang semakin baik, harapannya anak-anak dari keluarga miskin ini kelak tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#95 Dinamika Kependudukan

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirayakan oleh lebih dari 265 juta penduduk Indonesia. Setelah 74 tahun merdeka tela...