Sabtu, 03 Februari 2018

Tips Menulis Opini Untuk Emak Hebat


Menulis itu bisa karena biasa. Tidak ada rumusnya selain dengan terus menulis. Demikian juga ketika menulis opini. Jika selama ini saya lebih banyak menggunakan otak kiri, mulai sekarang lagi mencoba untuk mengoptimalkan otak kanan.
Contohnya gimana sih otak kiri-kanan? Misal nih apa yang akan kamu katakan kalo saya minta kamu bercerita tentang mangga. Otak kiri akan mengatakan kalo mangga itu buah yang manis. Warnanya hijau, bentuknya ada yang bulat ada juga yang lonjong. Jenis mangga ada bermacam-macam, ada mangga arum manis, mangga manalagi, mangga gedong, dan lain-lain. Daun mangga berwarna hijau. Dan deskripsi tentang mangga lainnya.
Otak kanan akan menceritakan hal yang berbeda. Mangga adalah buah yang mahal bagi saya. Di kampung saya jarang sekali pohon mangga yang bisa tumbuh dengan baik, bahkan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Mungkin karena kampung kami ada di daerah pegunungan, sehingga tidak cocok dengan pohon mangga. Kalopun ada paling mangga kuweni atau di kampung kami menyebutnya buah pakel. Untuk bisa makan mangga kami biasa membelinya di pasar Salaman yang letaknya agak sedikit kota, dipinggir jalan raya Purwokerto Semarang. Harganyapun tentu lebih mahal jika dibandingkan dengan buah yang lain seperti rambutan atau jeruk. Ini karena buah mangga tadi diimpor dari luar daerah. Berbeda dengan di Madiun, kampung asal suami. Disana buah mangga sangat murah sekali. Hal ini karena mangga bisa tumbuh dengan baik disana, bahkan hampir tiap rumah menanam pohon mangga.
Dari dua cerita di atas jelas sekali bedanya kan? Meski kedua cerita tadi membicarakan tentang mangga, namun pada cerita pertama lebih mengungkapkan deskripsi tentang mangga, sedangkan cerita kedua menceritakan ada apa di balik mangga.
Demikian juga ketika kita menulis tentang angka-angka statistik. Di publikasi Statistik kita lebih banyak berbicara tentang angka tersebut, naik turun berapa persen, lebih rendah lebih tinggi dan sebagainya. Sedangkan di karya tulis ilmiah populer a.k.a opini kita diminta bercerita tentang informasi yang ada dibalik angka tadi dan keterkaitannya dengan fenomena sekarang.
Trus gimana dong supaya kita dapet ide untuk menulis?
Kalo saya lebih suka baca berita daripada baca fb. Dari berita tersebut apa sih yang lagi kekinian, topik apa sih yang lagi nge-hits? Nah dari situlah saya biasa dapat ide untuk ditulis. Biasanya kalau ada informasi yang menarik akan saya simpan atau skrinsut dulu. Sambil selanjutnya nyari-nyari angka BPS yang terkait dengan tema tersebut.
Nulisnya kapan? Kan senin-jumat kerja.
Saya biasa nulisnya di hari Sabtu atau Minggu pagi sampai jam 9an karena kalau di hari kerja udah rempong dan ngantuk. Itupun nulisnya dengan catatan ketika anak-anak semuanya sehat. Maklumlah dengan lima anak yang masih kecil tentu kadang ada yang sakit, rewel dan sebagainya. Sama kan ya dengan emak-emak yang lain? Kerjaan kantor maupun kerjaan rumah itu tidak akan ada habisnya kalau mau diturutin. Jadi kita sendirilah yang harus keluar sebentar dari rutinitas tersebut. Ketika saya mau nulis, kadang masaknya jadi tertunda atau kadang malah ga masak, hehehehe. Maaf ya mas, umi mau nulis dulu nanti kita makannya beli gapapa yaaa? Alhamdulillah kanjeng abi sangat mendukung dan sama sekali tidak keberatan.
Ketika menulispun tidak serta merta sekali duduk selesai, bahkan bisa mangkrak berminggu-minggu. Mentok, baca, lanjut nulis lagi, mentok lagi, baca lagi. Pun ketika saya males nulis atau suatu ada hal yang menjadikan saya belum bisa nulis, saya usahakan untuk membaca opini-opini orang yang temanya menarik. Baca secara berulang dengan pelan-pelan. Bahkan agar lebih nampol, proses membaca ini bisa disertai dengan menulis ulang artikel opini tersebut dengan tulisan tangan. Keterlibatan dua panca indera ini diyakini lebih mengikat isi tulisan dan membiasakan diri dengan alur opini daripada hanya membacanya saja.
Ketika dalam proses menulis itu, saya ga menerapkan aturan yang baku. Paling hanya menuliskan garis besarnya aja. Setelah itu nulis aja terus yang ada di kepala sampai bener-bener mentok dan tidak ada yang bisa ditulis lagi. Kalau sudah tertuang semua yang ada di kepala, barulah saya edit tulisan, tambah, kurang, hapus, atau susun ulang paragraf agar nyambung menjadi sebuah cerita. Selanjutnya saya kirim ke redaksi koran. Untuk penyemangat bisa mencoba koran lokal dulu, karena kalau langsung ke koran nasional bisa bikin patah semangat dan males nulis lagi. Bahkan untuk bisa tembus ke kompas, saya harus melewati 11 kali penolakan dulu. Kalo di koran lokal udah muat, bolehlah kita mencoba ke koran nasional.
Selamat mencoba ya Mak. Maafkeun jika tipsnya kepanjangan. 

18 komentar:

  1. Balasan
    1. nuriiiiin, makasih udah mampir. saya juga banyak belajar dari nurin.

      Hapus
  2. Balasan
    1. makasih, saling belajar dan menyemangati mabk.

      Hapus
  3. Kereennn Mba, sangat menginspirasi.. Smg sy jg bs yaa.. Amiiiinn..

    BalasHapus
  4. Semoga bisa banyak belajar darimu jeng

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Makasih ibu dosen,,sama2 belajar dan saling menginspirasi.

      Hapus
  6. Semoga bisa tembus koran juga ya tulisan saya (judul udah jadi, tapi tulisannya mandheg :-) ...tidak sekedar nangkring di wall fb curhat2an ala emak. Barokallah tasmilah

    BalasHapus
  7. Keren, salut, inspiratif banget mbak.....trimakasih ya

    BalasHapus
  8. inspiratif banget.. makasiih sharingnya mba.. Salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Irma, terimakasih juga udah mampir ke di mari.

      Hapus
  9. Bu Tasmilah bantu saya ya, kayaknya sdh nemu yg saya harapan saya selama di kota Malang ini.


    BalasHapus

#99 Masa Depan Desa

Desa menjadi masa depan bagi kehidupan bangsa. Ketika perkotaan sudah jenuh tidak mampu menampung beban di atasnya dan terjadi penurunan...