Selasa, 13 Februari 2018

Quick Wins Kota Serang


Sebagai ibu kota Provinsi Banten, tentu semua menginginkan Kota Serang semakin maju dan menjadi etalase bagi Banten secara keseluruhan. Tidak hanya kotanya yang cantik dari luar, namun juga cantik di dalam yang mampu memberikan manfaat luas bagi penduduk Kota Serang. Tentu ada banyak hal yang harus dibenahi di Kota Serang untuk mengejar ketertinggalannya dari Ibu Kota Provinsi yang lain. Oleh karena itu diperlukan quick wins atau kemenangan yang cepat untuk mendorong kemenangan besar selanjutnya.

Quick wins akan berhasil jika ada perubahan yang dapat dengan mudah terlihat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Dalam mewujudkan quick wins ini wajib memperhatikan dan memenuhi hal-hal sebagai berikut yaitu mengidentifikasi area-area yang paling kritikal, menetapkan program, dan menyampaikan rancangan pelaksanaan penyelesaian program.
Salah satu permasalahan yang krusial di Kota Serang adalah kemiskinan dan  Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih tertinggal dibandingkan dengan kota besar lainnya. Kemiskinan menggambarkan ketidakmampuan dalam mencukupi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Kemiskinan juga  menggambarkan seberapa besar pertumbuhan ekonomi mampu menetes ke seluruh lapisan ekonomi penduduk.
Di sisi yang lain IPM menggambarkan capaian pembangunan terhadap kualiatas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia ini penting untuk menyongsong bonus demografi. Kualitas SDM ini menjadi modal utama dalam memanfaatkan peluang dari bonus demografi.
Kemiskinan di Kota Serang pada tahun 2017 sebesar 5,57 persen atau menempati urutan ketiga tertinggi di Banten setelah Pandeglang dan Lebak. Sedangkan IPM Kota Serang nilainya sebesar 70,51 atau menempati urutan keempat tertinggi di Provinsi Banten.
Tentu tidak ada yang salah dengan angka-angka tersebut. Namun menjadi sebuah perenungan yang dalam karena Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi harusnya memiliki capaian yang lebih baik dari itu. Untuk mengejar ketertinggalan maka dibutuhkan langkah yang cepat untuk mencapai tujuan yang akan dicapai.
Kemiskinan disebabkan karena derajat kapabilitas yang rendah sehingga dengan kondisi demikian akan sulit untuk menerima bantuan yang sifatnya pemberdayaan. Kemiskinan ini hanya akan berkurang dengan aneka bantuan/subsidi dan program perlindungan sosial. Kondisi yang demikian sangat rentan terhadap keterlambatan penyaluran bantuan yang mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin. Belum lagi jika kita berbicara tentang penduduk hampir miskin yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Harga beras yang melonjak dalam beberapa bulan terakhir akan sangat mudah menjatuhkan penduduk dalam jurang kemiskinan. Hal ini karena beras menjadi penyumbang terbesar dalam garis kemiskinan makanan.      
Derajat kapabilitas penduduk miskin hanya akan meningkat apabila disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Dari segi kesehatan bisa dimulai dari quick wins yang paling mudah namun mampu memberikan manfaat berlipat dalam menjaga kualitas hidup. Salah satu contohnya adalah sumber air minum dan  tempat buang air besar. Jika dua hal ini terpenuhi maka secara signifikan akan meningkatkan kualitas kesehatan penduduk terutama di pedesaan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih ada 1,49 persen penduduk kota serang yang minum air dari mata air tidak terlindung dan 2,07 persen yang minum dari air sungai/kolam/irigasi. Tentu bukan pada kecilnya angka tersebut, namun kenyataan ini masih menyisakan masalah bahwa masih ada penduduk yang sumber air minumnya kurang layak.
Dari tempat buang air besar masih ada 15,98 persen penduduk Kota Serang yang tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar sehingga buang air besar di sawah, kebun, sungai dan sebagainya. Kondisi ini tentu jauh dari perilaku hidup sehat, sehingga penyediaan fasilitas MCK dan air bersih perlu segera diperbanyak disamping pembangunan infrastruktur lainnya.
Quick wins selanjutnya adalah dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI). Balita di Kota Serang rata-rata hanya diberikan ASI selama 10,62 bulan dan  masih jauh dari anjuran pemberian ASI ideal yaitu hingga 2 tahun. Padahal ASI sangat penting untuk menjaga imunitas bayi. Senada dengan imunisasi, hanya 52,33 persen balita di Kota Serang yang mendapatkan imunisasi lengkap. Artinya apa? Masih dibutuhkan kerja keras untuk mengedukasi penduduk terutama para ibu agar memberikan imunisasi dan ASI kepada buah hatinya.
Dari aspek pendidikan mendorong penduduk usia sekolah untuk melanjutkan pendidikannya harus terus digalakkan. Masih ada 2,45 persen penduduk usia SD yang tidak bersekolah. Demikian juga untuk setingkat SMP, hanya 80,98 persen yang bersekolah, sedangkan untuk tingkat SMA lebih sedikit lagi yaitu hanya 60,02 persen yang bersekolah.
           Apalah artinya bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak jika tidak dibarengi dengan kualitas pendidikan yang memadai. Bahkan untuk karyawan penjaga toko saja saat ini mensyaratkan berpendidikan minimal SMA/sederajat. Belum lagi jika kita berbicara tentang tingkat pengangguran di Kota Serang. Semua kenyataan di atas menjadi sebuah PR besar bagi calon kepala daerah untuk mengayunkan langkah menuju Kota Serang yang lebih baik dan maju.

(Terbit Di Koran Radar Banten, 13 Februari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#88 Ujian Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi penyumbang perekonomian Indonesia dengan devisa yang terus meningkat setiap tahun. Terlebih ketika neraca per...