Selasa, 20 Februari 2018

Praktek Menulis Opini Dengan Data BPS

Pertama kali dihubungi oleh adinda Nurin untuk mengisi acara seminar di grup perempuan BPS menulis, rasanya saya belum memiliki kapasitas untuk itu. Tapi Nurin meyakinkan saya bahwa acara tersebut lebih banyak pada berbagi pengalaman bagaimana membunyikan data BPS menjadi sebuah opini di media. Saya yakin banyak dari teman-teman yang sudah mengikuti pelatihan dan workshop menulis. Kalaupun tidak pernah mengikuti langsung, minimal sudah pernah membaca resume dari pelatihan menulis sebelumnya.
Saya pernah bertemu dengan rekan kerja alumni workshop menulis BPS, beliau bilang “mbak kita sudah diajari cara menulis tapi bagaimana membunyikan data BPS itu kami juga perlu belajar lagi”. Mungkin perlu penghubung lagi antara teknik menulis dan cara membunyikan data BPS. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk berbagi pengalaman bagaimana proses menulis opini dengan memanfaatkan data BPS hingga mengirimkannya ke media.
Pertama yang saya sampaikan adalah menentukan tema yang aktual. Tema aktual ini bisa diperoleh dengan cara mengikuti berita yang lagi kekinian di media cetak maupun daring. Berita yang diulang di beberapa media lebih dari satu hari bisa kita manfaatkan sebagai tema menulis kita. Tema inipun harus disesuaikan dengan kapasitas kita dan ketersediaan datanya. Saya sangat menghindari tema-tema di luar kapasitas saya. Contohnya seperti berita berikut ini.




Tema yang saya ambil adalah kenaikan harga beras.
Kedua, tentukan angle yang akan kita pilih. Dari tema di atas saya ingin menghubungkan kenaikan harga beras dengan kemiskinan di Indonesia. Latar belakangnya karena beras merupakan penyumbang terbesar dalam garis kemiskinan makan (GKM). Data ini diperoleh dari mana? Dari Berita Resmi Statistik (BRS) Kemiskinan. Dapat dilengkapi juga datanya dari BRS NTP, BRS Inflasi dan publikasi-publikasi BPS lainnya.
Langkah ketiga adalah buat poin-poin dari tulisan yang akan kita tulis. Misalnya, penyebab kenaikan harga beras, pengaruhnya terhadap kesejahteraan penduduk, bagi penduduk miskin bagaimana? Upaya pemerintah yang harus dilakukan dan seterusnya
Kembangkan setiap poin tadi menjadi sebuah paragraf. Jangna lupa masukkan data-data BPS yang mendukung serta kutip pendapat pakar/ahli untuk mendukung opini kita. Sebagai insan BPS tentu kita sangat diuntungkan dengan data-data yang dimiliki oleh BPS, meskipun data-data tersebut juga sudah terpublis untuk umum di web bps.go.id. Tulis semua yang ada dalam pikiran kita. Kemudian endapkan sambil kita mencari inspirasi yang lain sebelum kita benar-benar mengedit tulisan tersebut.
Struktur Tulisan Opini:
1.      Judul , buatlah judul yang singkat, padat, jelas, panjang 3-5 kata.
2.      Lead (paragraf pembuka yang menarik pembaca untuk terus membaca hingga tuntas).
3.      Batang tubuh (penjelas)
4.      Ending (kesimpulan/jawaban dari lead/saran rekomendasi)
            Sebelum mengirim ke redaksi tulislah biodata kita selengkap mungkin yang menggambarkan kapasitas kita. Untuk awalan kita bisa mengirimkan ke koran lokal dahulu, karena peluangnya lebih mudah untuk dimuat. Tidak salah jika langsung mengirim ke koran nasional, namun jika belum muat juga bisa mematahkan semangat menulis kita yang baru tumbuh. Jadi coba dikirim koran lokal dahulu.
Dari tema kenaikan harga beras di atas terciptalah opini yang berjudul Beras dan Kemiskinan yang muat di Koran Suara Pembaruan di Bulan Januari. Perhatikan lead yang saya tulis.


Opini bisa juga ditulis untuk menanggapi opini orang lain di media masa. Contohnya saya ingin menanggapi opini dari Prof. Bagong Suyanto yang dimuat pada opini Kompas tanggal 5 Januari 2018 dengan berjudul “Penurunan (semu) Kemiskinian”.

 Opini tanggapan saya berjudul Memaknai Angka Kemiskinan yang dimuat pada Opini Kompas tanggal 20 Januari 2018.

Bagaimana jika kita ingin menulis dengan data-data BPS tanpa melihat berita yang sedang kekinian? silakan saja, bukankah itu dalam rangka kita menyebarluaskan data-data BPS. agar lebih menarik dan berpeluang besar dimuat di media, jangan lupa untuk selalu menyambungkannya dengan fenomena dari kondisi sekarang. Contoh hubungkan BRS tentang wisatawan mancanegara dengan meletusnya Gunung Agung di Bali. Rilis BRS ketenagakerjaan dengan fenomena tutupnya banyak gerai retail. bagaimana serapan tenaga kerja di sketor perdagangan, dan lain-lain. 

Saya sendiripun masih banyak belajar untuk menulis yang lebih baik dan bermanfaat. Semoga sharing ini bermanfaat untuk kawan-kawan semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#95 Dinamika Kependudukan

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirayakan oleh lebih dari 265 juta penduduk Indonesia. Setelah 74 tahun merdeka tela...