Sabtu, 06 Januari 2018

Meneropong Perekonomian Banten 2018


Perekonomi Banten dalam setahun terakhir mengalami pertumbuhan sebesar 5,62 persen dan melampui pertumbuhan ekonomi nasional yang nilainya sebesar 5,06 persen. Peranan Banten dalam menopang perekonomian nasional juga mengalami peningkatan menjadi 4,16 persen dalam setahun terakhir. Kondisi ini tentu menjadikan Banten sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang layak diperhitungkan di kancah nasional. Namun apakah tren positif dalam bidang ekonomi ini akan terus berlanjut pada tahun 2018 ini?
Untuk meningkatkan kinerja perekonomian dapat dilakukan dengan memberikan perhatian pada sektor ekonomi potensial yang memberikan sumbangan besar dalam membentuk perekonomian Banten. Potensi perekonomian ini dapat dilihat dari struktur perekonomian dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB).
Selama lima tahun terakhir struktur perekonomian di Provinsi Banten tidak mengalami perubahan. Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang terbesar dalam perekonomian Banten dengan kontribusi sebesar 31,46 persen. Sektor lain yang memberikan sumbangan besar dalam membentuk perekonomian Banten adalah sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi sebesar 12,11 persen, sektor transpotasi pergudangan 10,79 persen, dan sektor kontruksi 10,53 persen.
Sektor industri pengolahan sebagai kekuatan terbesar dalam perekonomian Banten mengalami penurunan kontribusi dalam lima tahun terakhir dari 38,49 persen pada tahun 2011 menjadi 31,46 persen pada tahun 2017. Penurunan peranan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi pada sektor industri pengolahan pada tahun 2017 sebesar 2,46 persen atau lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada lima tahun sebelumnya yang mencapai 5,25 persen. Perlambatan ini diakibatkan oleh menurunnya permintaan produksi manufaktur dari luar negeri, mengingat bahwa industri pengolahan di Banten berorientasi pada ekspor.
Untuk tahun 2018, kinerja sektor industri pengolahan masih sangat tergantung pada kondisi pasar global. Dengan membaiknya perekonomian di negara tujuan ekspor seperti Amerika, China, dan Jepang maka akan meningkatkan permintaan ekspor produk manufaktur Banten. Harus diakui bahwa 97,70 persen ekspor Banten merupakan barang manufaktur/hasil industri pengolahan.
Ekspor Banten hingga bulan November 2017 mencapai 10.325,63 juta dolar atau meningkat 23,10 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan meningkatknya ekspor ini maka akan mendorong peningkatan produksi dan menyerap tenaga kerja baru di Banten. Dalam setahun terakhir sektor industri pengolahan menyerap tenaga kerja baru sebanyak 129 ribu orang, yang artinya setiap pertumbuhan 1 persen akan menyerap tenaga kerja baru sebanyak 52.439 orang. Pertumbuhan ekonomi pada sektor industri pengolahan telah berkualitas karena telah mampu mengurangi pengangguran yang ada di Banten.
Sektor perdagangan sebagai penopang ekonomi terbesar kedua di Banten mengalami percepatan pertumbuhan dalam setahun terakhir. Pada triwulan tiga 2017 sektor perdagangan tumbuh sebesar 6,30 persen. Tren positif ini masih akan berlanjut hingga tahun 2018 seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah atas Indonesia. Meski sektor perdagangan mengalami pertumbuhan namun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 3 ribu orang.
Demikian juga untuk sektor konstruksi yang tumbuh 8,45 persen dalam setahun terakhir juga mengalami penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 161 ribu orang. Hal ini bisa disebabkan oleh mekanisasi dari sektor konstruksi yang mengakibatkan pengurangan tenaga kerja manusia.Sektor konstruksi pada tahun 2018 masih akan terus tumbuh sejalan dengan fokus pembangunan infrastruktur oleh Presiden Jokowi. Program padat karya cash bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tingkat pengangguran terutama di perdesaan.
Sektor keempat terbesar yang menopang perekonomian Banten adalah sektor transportasi dan pergudangan. Dalam setahun terakhir sektor ini mmapu tumbuh sebesar 9,66 persen atau mengalami percepatan dibanding periode sebelumnya. Sektor ini akan terus tumbuh pada tahun 2018 seiring dengan menggeliatnya sektor pariwisata di tanah air. Bandar udara Soekarno Hatta sebagai bandara paling sibuk di Indonesia dan pintu masuk utama wisatawan asing menjadi sumber utama sektor transportasi di Banten.
Sektor transportasi dalam setahun terakhir mampu menyerap tenaga kerja baru sebanyak 51 ribu orang. Hal ini lebih didorong karena maraknya transportasi daring (online) di Banten. Meski inovasi baru tersebut dianggap mengganggu keberadaan bisnis yang ada sebelumnya, namun keberadaannya mampu memberikan lapangan usaha baru di Banten. Dan untuk tahun-tahun mendatang akan banyak tercipta  inovasi baru berbasis digital yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Banten.
Pertumbuhan ekonomi inklusif
Pertumbuhan ekonomi banten hendaknya mampu memberikan kontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Hal inilah yang masih menjadi pe-er bagi Pemerintah Banten. Berdasarkan data BPS jumlah penduduk miskin di Banten pada Bulan September 2017 sebanyak 699,83 ribu orang atau meningkat 24,79 ribu jika dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya. Kenaikan jumlah penduduk miskin ini sangat kontras dengan pertumbuhan ekonomi Banten yang berada diatas petumbuhan ekonomi nasional dalam setahun terakhir.

Demikian juga dengan tingkat pengangguran di Banten pada kondisi Agustus 2017 sebanyak 520 ribu orang atau mencapai 9,28 persen. Tingginya tingkat pengangguran ini menempatkan Banten pada posisi kedua tertinggi di Indonesia. Kondisi ini menuntut agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Banten mampu menyerap angkatan kerja yang terus tumbuh setiap tahun. Diperlukan sinergi antara pemerintah dan swasta untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Dengan meningkatnya pendapatan akan meningkatkan daya beli dan kesejahteraan penduduk Banten.
 Dimuat di harian Radar Banten, 5 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#93 Anak Dalam Pusaran Kemiskinan

Kondisi anak Indonesia saat ini masih banyak yang harus diperhatikan. Selain masalah stunting, anak-anak juga tidak merasa aman dari ek...