Jumat, 09 Desember 2016

Visi Pertanian Banten; Pekerjaan Rumah bagi Para Cagub


Pertanian merupakan sektor yang memiliki arti penting bagi perekonomian Banten. Meski kontribusinya dalam membentuk perekonomian Banten hanya sebesar 5,98 persen pada tahun 2015, namun sektor pertanian telah menjadi tumpuan hidup bagi 674.670 orang tenaga kerja di Banten.
Sektor pertanian yang tumbuh 7,08 persen pada tahun 2015 belum mampu mengangkat kesejahteraan petani di Banten. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan di Provinsi Banten dari 7,12 persen pada Bulan September 2015 menjadi 7,45 persen pada Bulan Maret 2016. Meski secara provinsi angka kemiskinan di Banten mengalami penurunan, namun jika dirinci menurut wilayah, jumlah penduduk miskin di tingkat perdesaan mengalami peningkatan sebesar 0,33 poin.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah telah berhasil meningkatkan produktifitas pertanian terutama subsektor tanaman pangan yaitu padi dari 5,29 ton/hektar pada tahun 2014 menjadi 5,66 ton/hektar pada tahun 2015. Keberhasilan pemerintah tersebut tidak terlepas dari upaya khusus yang telah dilakukan seperti penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk, pemberantasan hama terpadu dan pompanisasi untuk antisipasi musim kemarau. Namun demikian meski produktifitas naik, namun petani masih belum bisa menikmati harga gabah yang secara ekonomi menguntungkan petani.
Apalagi sebagian besar petani di Provinsi Banten adalah petani penggarap yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Menurut hasil Sensus Pertanian tahun 2013, terdapat 584.259 rumah tangga petani pengguna lahan. Apabila dilihat dari luas lahan pertanian yang dikuasai, masih terdapat 634.415 rumah tangga petani gurem, yaitu petani pengguna lahan yang menguasai lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar. Bagaimana petani bisa sejahtera, jika hasil produksi pertaniannya masih harus dibagi lagi dengan pemilik lahan.
Atas dasar itulah, perlu kehadiran pemerintah untuk bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi pada sektor pertanian terutama dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dan momen pilkada yang akan dihelat pada tahun 2017 menjadi salah satu peluang bagi calon kepala daerah untuk memberikan solusi terhadap permasalahan sektor pertanian. Pada pilkada serentak tahun 2017, ada dua calon cagub cawagub yang akan bertarung untuk memenangkan pilihan hati rakyat Banten.
Pasangan calon yang pertama Wahidin Halim-Andika Hazrumy, mengusung visi Banten Sejahtera. Dengan misi yang akan diusung yaitu dengan meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dengan cara pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin khususnya petani dan nelayan, serta pengendalian inflasi daerah. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena meski perekonomian tumbuh bahkan diatas pertumbuhan nasional namun belum mampu memberikan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Banten. Masih ada ketimpangan antar Kabupaten/Kota di Banten. Terlebih bagi petani dan nelayan yang sebagian besar tinggal di perdesaan, tingkat kemiskinannya semakin bertambah.
Misi ini harus bisa direalisasikan dalam bentuk program yang mampu mensejahterakan petani dan nelayan. Bagaimana kebijakan harga pokok pembelian gabah yang menguntungkan petani, subsidi pertanian, memangkas rantai distribusi barang kebutuhan konsumsi sehingga akan menurunkan tingkat inflasi di tingkat perdesaan. Mengingat harga kebutuhan konsumsi lebih elastis daripada harga komoditas pertanian. Selain itu itu kenaikan harga kebutuhan konsumsi berpengaruh 62 persen terhadap penurunan tingkat kesejahteraan petani di Banten. Bagi petani dan nelayan bagaimana meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan perikanan sehingga mampu memberikan pendapatan yang lebih selain tentu memperpanjang daya tahan produk.
Sedangkan pasangan calon yang kedua Rano Karno-Embay Mulya, mengusung visi Banten maju dengan struktur ekonomi berbasis industri dan pertanian yang tangguh. Adapun misi yang akan dilakukan adalah dengan meningkatkan dan melindungi usaha ekonomi kerakyatan petani, nelayan, dan UMKM. Bahwa perekonomian Banten ditopang oleh sektor industri sebesar 33,48 persen adalah benar adanya. Selain itu karakteristik industri di Banten merupakan industri yang padat modal dan teknologi, yang dalam peningkatan produktifitasnya tidak mengandalkan penambahan tenaga kerja baru. Karena dalam pertumbuhannya sebesar 3,31 persen terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja hingga 81 ribu orang dalam setahun terkahir. Jangan sampai struktur perekonomian Banten yang didominasi oleh sektor industri tersebut tidak memberikan manfaat kepada masyarakat, karena nilai tambah yang dihasilkan hanya menguntungkan pemilik modal saja
Sektor pertanian meski sedikit kontribusinya dalam perekonomian Banten, namun masih menyimpan potensi yang sangat besar. Jika selama ini hasil panen dan tangkapan perikanan hanya dijual sesuai produk asli, namun untuk kedepannya bagaimana meningkatkan nilai tambah bagi produk pertanian dan perikanan Banten sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pelatihan dalam pengolahan produk pertanian serta pemasaran dengan memanfaatkan tekonologi mutlak diperlukan. Sehingga akan tumbuh industri-industri baru yang memanfaatkan sumberdaya alam lokal dan juga tenaga kerja lokal. Sehingga berbasis industri yang dimaksud disini mampu meningkatkan kesejateraan masyarakat Banten secara menyeluruh.

Uraian diatas harus menjadi perhatian bagi pemerintah dan calon kepala daerah selanjutnya. Harapannya Provinsi Banten yang memiliki potensi lahan pertanian yang luas ini menjadi salah satu lumbung pangan yang memberikan kontribusi besar dalam perekonomian. Tidak cukup upaya peningkatan produktifitas petanian saja, namun juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani dimasa yang akan datang.
Dimuat di harian Satelit News , 8 Desember 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#88 Ujian Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi penyumbang perekonomian Indonesia dengan devisa yang terus meningkat setiap tahun. Terlebih ketika neraca per...