Kamis, 01 Desember 2016

Potensi dan Permasalahan Pemuda Kita


Setiap tanggal 28 Oktober masyarakat Indonesia  memperingati hari sumpah pemuda. Tahun ini akan diperingati hari sumpah pemuda yang ke 88. Adapun tema sumpah pemuda yang diusung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia tahun ini adalah Pemuda Indonesia Menatap Dunia. Untuk bisa menatap dunia, diperlukan pemuda-pemuda yang berkarakter unggul. Sedangkan untuk kondisi pemuda Indonesia saat ini seperti apa? Peran apa yang telah mereka lakukan dalam pembangunan bangsa ini?
Sebelum jauh kita berbicara tentang pemuda, terlebih dahulu mari kita definisikan siapa yang disebut sebagai pemuda itu. Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pemuda didefinisikan  sebagai “…a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence and awareness of our interdependence as members of a community…”. Artinya “pemuda” adalah mereka yang sedang menjalani transisi dari masa kanak-kanak menuju periode ketika mereka dituntut untuk menjadi lebih mandiri dan independen. Pada periode tersebut, mereka juga diharapkan untuk memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas. Sedangkan dari usia UNESCO membatasi mereka yang disebut sebagai pemuda adalah mereka yang berumur 15-24 tahun. Di Indonesia merujuk pada Undang-Undang No. 40/2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun.
Kembali kepada kondisi pemuda Indonesia saat ini, maka kita akan merujuk pada penduduk yang berusia 16 hingga 30 tahun. Teringat ucapan Sang Proklamator RI, Ir. Soekarno “ Beri Aku 10 Pemuda, maka Akan Aku Goncang Dunia”. Begitu besar potensi yang dimiliki oleh pemuda, selain karena fisik yang masih prima, semangat yang menyala, dan juga kapasitas intelektual yang masih segar yang siap menampung berbagai ilmu pengetahun dan keterampilan. Dengan potensi tersebut harusnya pemuda Indonesia mampu berkontribusi dan mengambil peran dalam pembangunan di Indonesia.
Terlebih pada tahun 2020-2030, Indonesia akan mengalami suatu masa keemasan yang bernama bonus demografi. Dikatakan bonus demografi karena setiap negara hanya akan memperoleh masa emas tersebut hanya satu kali saja. Pada masa bonus demografi tersebut, usia produktif lebih banyak sehingga angka ketergantungan semakin kecil. Dengan tingginya penduduk usia produktif diharapkan mampu secara optimal berkontribusi dalam pembangunan ekonomi maupun pembangunan manusia di Indonesia. Hal yang tidak kita harapkan adalah jangan sampai dari segi usia tergolong produktif namun dari segi kualitas rendah, baik dari pendidikan, keterampilan, kesehatan, maupun dari segi karakter dan sikap. Sehingga dengan kondisi demikian tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam era perdagangan bebas seperti sekarang ini. Jangan sampai pula, usia emas tersebut menambah beban negara, dengan  tingginya sosial cost yang harus dikeluarkan negara sebagai akibat dari rendahnya kualitas SDM di Indonesia.
Pada saat ini kita dapati banyak pemuda Indonesia yang berprestasi tidak hanya di kancah nasional namun juga internasional. Jika saat ini banyak pemuda kita yang memenangkan medali emas di berbagai ajang olimpiade sains internasional, menang dalam berbagai kontes internasional, hingga berprestasi dalam ajang olahraga maupun seni tingkat internasional, tentu kita mengharapkan kelak mereka menjadi generasi penerus yang berkualitas dan berkarakter. Yang mampu menginspirasi dan menggerakkan pemuda pemudi lainnya di tanah air untuk meningkatkan kapasitas sesuai dengan bidang yang digelutinya. Bukan merupakan pemuda yang mudah putus asa, bukan juga pemuda yang mudah memutuskan untuk mengkahiri hidup hanya karena ditolak porposal skripsinya maupun putus asa karena merasa kurang diperhatikan. Namun pemuda yang kita harapkan adalah pemuda yang tangguh, yang tidak mudah menyerah dan penuh tanggung jawab dalam menjalani pilihannya.
 Namun potensi tersebut masih dibayangi dengan berbagai permasalahan pada pemuda Indonesia saat ini. Dari segi pendidikan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Angka partisipasi Murni (APM) penduduk usia 16-18 tahun yang sekolah di SMA/sederajat sebesar 59,31 persen. Artinya masih ada 40,69 persen pemuda dengan usia 16-18 tahun yang tidak melanjutkan sekolahnya. Sangat disayangkan pemuda-pemuda tersebut tidak mengenyam pendidikan yang seharusnya mereka peroleh. Bagaimana mereka akan mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain jika hanya berbekal pendidikan tingkat menengah saja. Terlebih di era perdagangan bebas Asean seperti sekarang ini. Bagaimana mereka akan menjadi tuan di negerinya sendiri jika hanya mampu mengambil bagian di pekerjaan kasar saja karena tidak memiliki ketrampilan maupun keahlian. Sedangkan penyebab rendahnya partisipasi sekolah pemuda-pemuda Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari faktor ekonomi, faktor kenakalan remaja, maupun faktor sosial lainnya.
Dari segi permasalahan sosial, tidak sedikit pemuda Indonesia yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, seks bebas hingga prostitusi online. Pemuda-pemuda yang bermasalah tersebut tidak akan produktif, bahkan akan menjadi beban bagi negara Indonesia. Belum lagi tingkat pengangguran di Indonesia yang mayoritas berusia muda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional, jumlah pengangguran terbuka pada bulan Februari 2016 sebanyak 7.024.172 orang dengan jumlah pengangguran lulusan SMA sederajat sebanyak 2.895.026 orang, lulusan Diploma sebanyak 249.362 orang, dan lulusan universitas sebanyak 695.304 orang. Angka pengangguran yang berpendidikan tinggi, setiap tahun mengalami peningaktan. Banyaknya pengangguran tersebut bisa jadi karena rendahnya kompetensi dan minimnya soft skills yang dimiliki oleh calon tenaga kerja sehingga alokasi lapangan pekerjaan tidak sepenuhnya terpenuhi. Selain itu juga masih melekatnya mentalitas untuk mencari pekerjaan ketimbang menciptakan pekerjaan sendiri bagi para lulusan pendidikan tinggi tersebut.

Dengan kenyataan tersebut, diperlukan kehadiran pemerintah dengan memberikan banyak pelatihan keterampilan yang akan meningkatkan kapasitas dan daya saing pemuda Indonesia. Sehingga mampu berkreasi membangun usaha dan membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat yang lainnya. Terlebih untuk industry kreatif yang membuka peluang usaha yang tanpa batas. Bisa dibayangkan bagaimana anak-anak kampung lulusan sekolah menengah yang diberikan pelatihan mendesain dengan beberapa software mampu memenangkan kontes desain logo secara online yang menghasilkan ratusan hingga ribuan dollar setiap bulannya. Bahwa sebenarnya pemuda Indonesia memiliki potensi dan talenta yang tinggi harus diakui, tinggal bagaimana pemuda Indonesia mau belajar dan berusaha untuk menjadi lebih maju. Bagaimana pemuda Indonesia membangun karakter yang tangguh, pekerja keras yang penuh tanggung jawab. Sehingga dengan potensi yang dimilikinya menjadi sebuah kekuatan yang mampu berkontribusi  dalam pembangunan di Indonesia dan bersiap dalam menatap dunia.

Dimuat di harian Satelit News, 31 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#96 Kemiskinan dan Harga Diri

Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi miskin atau dari keluarga/negara miskin. Pun ketika kemiskinan tersebut dirend...