Sabtu, 20 Februari 2016

Dampak Jatuhnya Raksasa Jepang Bagi Perekonomian Indonesia


Pada awal bulan Februari 2016 ini publik Indonesia dikejutkan oleh berita tentang tutupnya pabrik dari perusahaan asal Jepang yaitu Toshiba dan Panasonic. Tutupnya pabrik dari dua perusahaan raksasa ini disinyalir sebagai akibat dari lemahnya daya saing produk yang dihasilkan oleh kedua Perusahaan tersebut.  
PT.Panasonic Gobel melakukan rasionalisasi pabrik lighting yang berimbas pada ditutupnya salah satu pabrik Panasonic yang berada di Cikarang, Bekasi. Buntut dari ditutupnya salah satu pabrik ini menurut Rahmat Gobel akan ada pemutusan hubungan kerja karyawan (PHK) antara 1000-1500 orang. Rasionalisasi ini sebagai imbas dari produk lighting Panasonic berupa bohlam yang tidak mampu bersaing dengan produk lampu LED dari China maupun Korea selatan, sehingga diperlukan restrukturisai guna beralih ke produk yang memilki daya saing tinggi di pasar. Janjinya ketika proses restrukturisasi berjalan lancar dan produksi kembali naik, maka akan ada penambahan jumlah karyawan kembali.
Sedangkan untuk perusahaan Toshiba, pabrik yang tutup adalah untuk divisi kulkas dan mesin cuci. Dan untuk selanjutnya pabrik tersebut akan dijual kepada perusahaan asal China. Seperti diketahui bahwa persaingan dalam dunia usaha adalah suatu keniscayaan. Industri yang tidak berinovasi atau bahkan lambat dalam melakukan perubahan, maka akan mengalami kekalahan dalam persaingan bisnis yang pada akhirnya akan membuat industri tersebut bangkrut dan gulung tikar. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana industri manufaktur asal Jepang bersaing ketat dengan industri manufaktur asal Korea Selatan. Setelah kebangkrutan Sony dan melejitnya Samsung, seakan ikut menyeret produk-produk manufaktur Jepang lainnya dalam persaingan dengan produk asal Korea Selatan.
Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh dua perusahaan tersebut akan semakin menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Padahal jumlah pengangguran pada Bulan Agustus 2015 yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 6,18 persen. Dengan meningkatnya pengangguran secara otomatis akan menurunkan daya beli masyakat. Penurunan daya beli ini akan menurunkan permintaan terhadap barang dan jasa, sehingga secara tidak langsung akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Pada tahun 2015 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 4,79 persen atau mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 yang tumbuh sebesar 5,02 persen. Ditengah kondisi perekonomian global saat ini yang tidak menentu, anjloknya harga minyak mentah dunia, penurunan harga komoditas dunia, hingga kondisi perekonomian domestik yang diwarnai dengan tutupnya sejumlah perusahaan dan PHK yang marak, maka hal tersebut semakin memperberat perekonomian Indonesia. Perekonomian nasional yang kurang kondusif ini juga berdampak pada perekonomian regional, tidak terkecuali Propinsi Banten.
Kondisi Perekonomian Banten
Pada hari Rabu, tanggal 10 Februari 2016 diberitakan ada tiga perusahaan besar di Banten yang telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Hubungan Industri (PHI). Perusahaan tersebut adalah Panasonic, Toshiba, dan Jabatek yang bergerak di sektor tekstil. Dari tiga perusahaan tersebut ada sekitar 800 buruh yang dipastikan mendapat PHK. Perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut karena produksi semakin rendah, stabilisasi yang tidak baik, dan persolaan perizinan. Sedangkan dari faktor eksternal adalah tidak stabilnya nilai tukar rupiah, komponen konsumsi, komponen daya beli, dan tingkat pendapatan masyarakat. Nilai tukar rupiah yang tidak stabil sangat berpengaruh terhadap industri manufaktur di Banten, karena sebagian besar komponen bahan baku diimpor dari luar negeri. Sedangkan perlambatan ekonomi global mengurangi permintaan barang dari luar negeri, padahal karakteristik industri pengolahan di Propinsi Banten sebagian besar berorientasi ekspor.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Banten sebesar 5,37 persen atau mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 sebesar 5,47 persen. sedangkan dilihat dari struktur perekonomiannya, perekonomian Banten didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu : industri pengolahan (33,48 persen), perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor (12,08 persen) dan transportasi dan pergudangan (10,22 persen). Dengan kontribusi sektor industri pengolahan yang besar, maka segala kejadian yang menyangkut usaha industri pengolahan akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Banten. Terlebih dengan pailitnya beberapa perusahaan manufaktur tersebut akan secara langsung mengurangi nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor industri pengolahan dalam membentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Banten.
Dari aspek sosial, pailitnya sejumlah perusahaan ini akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran yang ada di Propinsi Banten. Jika pada bulan Agustus 2015 jumlah pengangguran di Banten mencapai 9,55 persen, maka sangat memungkinkan angka pengangguran ini akan meningkat pada kondisi bulan Februari 2016. Dengan meningkatnya jumlah pengangguran maka akan menurunkan daya beli masyarakat sehingga akan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin di Propinsi Banten. Sedangkan pada kondisi Bulan September 2015 jumlah penduduk miskin di Banten sebanyak 690,67 ribu orang atau 5,75 persen.
Untuk mengantisipasi dampak dari perlambatan perekonomian dan bangkrutnya beberapa perusahaan besar tersebut, diperlukan paket kebijakan ekonomi pemerintah yang mampu membuka lapangan usaha bagi masyarakat Indonesia. Pembangunan yang sifatnya padat karya segera dilakukan di awal tahun ini supaya dampak dari pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sedang marak terjadi bisa diminimalisir sehingga tidak menurunkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 Dimuat di harian Banten Raya, 20 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#99 Masa Depan Desa

Desa menjadi masa depan bagi kehidupan bangsa. Ketika perkotaan sudah jenuh tidak mampu menampung beban di atasnya dan terjadi penurunan...