Minggu, 10 Januari 2016

Meneropong Perekonomian Banten 2016


Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh dengan peluang dan tantangan dalam bidang ekonomi. Pada tahun ini pula diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sehingga memungkinkan perdagangan antar negara-negara ASEAN semakin bebas dan terbuka. Baik itu perdagangan barang, jasa, maupun tenaga kerja.
Banten sebagai sebuah propinsi yang baru berumur 15 tahun, merupakan salah satu kekuatan ekonomi nasional yang perlu mendapat perhatian. Pertumbuhan ekonomi Banten pada tahun 2014 sebesar 5,47 persen berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,02 persen. Selain itu sumbangan perekonomian Banten dalam membentuk perekonomian nasional juga mengalami peningkatan menjadi 4,04 persen setelah pada tahun sebelumnya kontribusinya sebesar 3,95 persen. Sedangkan jika dibandingkan dengan propinsi lain di Pulau Jawa, perekonomian Banten pada triwulan II tahun 2015 mengalami pertumbuhan paling cepat, yaitu sebesar 5,26 persen dan diatas Propinsi Jawa Timur yang tumbuh sebesar 5,25 persen. Capaian kinerja perekonomian pada tahun 2015 ini harus menjadi modal dalam meningkatkan perekonomian Banten pada tahun 2016. Untuk meningkatkan kinerja perekonomian maka harus memberikan perhatian pada sektor-sektor ekonomi yang potensial dan yang memiliki sumbangan besar dalam membentuk perekonomian Banten.
Untuk mengetahui potensi perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari struktur perekonomian dari Pendapatan domestik Regional Bruto (PDRB).  Selama lima tahun terakhir tidak terjadi pergeseran struktur perekonomian di Propinsi  Banten, dimana sektor industri pengolahan menjadi penopang terbesar dari perekonomian propinsi Banten dengan kontribusi sebesar 34,23 persen dalam membentuk perekonomian. Sektor lain yang memberikan sumbangan besar dalam membentuk perekonomian Banten adalah sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi sebesar 11,18 persen, sektor kontruksi 9,77 persen, dan sektor transpotasi pergudangan 9,33 persen.
Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan sebagai kekuatan besar perekonomian di Banten mengalami penurunan kontribusi dalam lima tahun terakhir dari 39,71 persen pada tahun 2010 menjadi 34,23 persen pada tahun 2014. Penurunan peranan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi pada sektor industri pengolahan pada tahun 2014 sebesar 0,23 persen atau lebih lambat jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang pertumbuhannya mencapai 8,98 persen. Perlambatan ini diakibatkan oleh menurunnya permintaan produksi manufaktur dari luar negeri, mengingat bahwa industri pengolahan di Banten berorientasi pada ekspor. Menurunnya permintaan ini sebagai akibat dari perlambatan ekonomi global di negara-negara tujuan ekspor dan pelemahan nilai tukar rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan meningkatnya nilai impor barang modal, apalagi karakteristik industri manufaktur di Banten bahan bakunya diimpor dari luar negeri. Penurunan permintaan ini terlihat dari nilai ekspor yang mengalami penurunan dari 12,3 Miliar USD pada tahun 2013 menjadi 12,2 Miliar USD pada tahun 2014.
Untuk tahun 2016 ini, kinerja sektor industri pengolahan masih sangat tergantung pada kondisi pasar global. Dengan membaiknya perekonomian di negara tujuan ekspor seperti Amerika dan China, harapannya akan kembali meningkatkan permintaan produk manufaktur Banten sehingga akan meningkatkan kembali ekspor. Selain itu kepastian The Fed pada Desember lalu dalam menaikkan suku bunga acuan, diharapkan mampu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah sehingga tidak mengganggu kinerja impor barang modal. Namun jika perekonomian dunia masih tidak stabil, kemungkinan terjadinya defisit neraca perdagangan Banten masih akan berlanjut pada tahun 2016.
Sektor Pertanian
Sektor lain yang harus menjadi perhatian utama pada tahun 2016 adalah sektor pertanian. Sektor pertanian di Propinsi Banten kontribusinya dalam membentuk perekonomian sebesar 6,54 persen atau mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kontribusinya pada tahun 2010 yang nilainya sebesar 6,17 persen. Meskipun sumbangan sektor pertanian dalam menopang perekonomian Banten tidak besar, namun sektor ini sangat potensial, mengingat hasil produksi pertanian merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Pada tahun 2016, kinerja sektor pertanian harus lebih ditingkatkan setelah pada tahun 2015 pertanian Banten dihantam El Nino (kekeringan) yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan produksi. Dengan upaya khusus yang tengah dilakukan oleh jajaran dinas pertanian dan jika El Nino pada tahun 2016 tidak sekuat tahun 2015 maka diperkirakan produksi padi pada tahun 2016 akan meningkat melebihi peningkatan produksi padi pada tahun 2015 yang nilainya sebesar 0,3 juta ton.
Sektor Pariwisata
Sektor ekonomi potensial lainnya di Propinsi Banten adalah sektor pariwisata. Banten merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki potensi untuk menjadi tujuan wisata, mulai dari wisata pantai, wisata alam, wisata budaya, hingga wisata religi. Keindahan pantai di pesisir Banten dipadu dengan wisata budaya adat Baduy, dan wisata religi di kawasan Banten Lama, menjadikan Propinsi Banten memiliki pesona yang memikat bagi para wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Pada tahun 2016 pemerintah telah menetapkan 10 destinasi wisata yang menjadi prioritas pengembangan, dan salah satunya adalah Tanjung Lesung yang terletak di Propinsi Banten. Masuknya Tanjung Lesung menjadi prioritas utama destinasi pariwisata merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Propinsi Banten  untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Potensi besar di bidang pariwisata yang dimiliki oleh Banten ini harus dibarengi dengan pembangunan akses jalan dan fasilitas yang mumpuni. Sehingga dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan akan semakin menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Banten. Pengembangan kawasan wisata Tanjung Lesung dan kawasan wisata lainnya secara otomatis akan meningkatkan perekonomian Banten sehingga kesejahteraan masyarakat khususnya disekitar kawasan wisata juga akan meningkat.

Sektor yang akan terdampak dari meningkatknya kunjungan wisatawan adalah sektor akomodasi (hotel/penginapan) dan penyediaan makan minum/restoran. Pada tahun 2014 pertumbuhan sektor jasa akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan sebesar  11,81 persen, jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 3,89 persen. Hal ini juga terlihat dari jumlah tamu yang menginap di hotel pada tahun 2014 sebanyak 1,8 juta orang yang terdiri dari 1,6 juta wisatawan domestik dan 0,2 juta wisatawan mancanegara. Dan pada tahun 2016 ini diperkirakan pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata dan sektor akomodasi serta rumah makan/restoran akan mengalami peningkatan  lebih tinggi seiring dengan perbaikan dan pengembangan kawasan wisata di Banten.

Dimuat di harian Radar Banten, 9 Januari 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#88 Ujian Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi penyumbang perekonomian Indonesia dengan devisa yang terus meningkat setiap tahun. Terlebih ketika neraca per...