Minggu, 17 Januari 2016

Bom Jakarta, Pelemahan Rupiah dan Travel Warning

            Pada hari Kamis, tanggal 14 Januari 2015, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh peristiwa peledakan bom di pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta. Ledakan bom yang disertai dengan baku tembak antara pelaku dan pihak kepolisian ini telah mengakibatkan 7 orang korban meninggal dan 17 orang korban luka. Aksi teror yang saat ini tengah dilakukan penyelidikan oleh pihak berwajib ini mengakibatkan situasi tidak aman di Jakarta. Berbagai analisa bermunculan terkait pihak yang bertanggungjawab dibalik aksi teror ini. Atas alasan apapun, perbuatan teror merupakan tindak kejahatan yang tidak dapat dibenarkan.
            Selain mengakibatkan korban jiwa dan ketakutan bagi masyarakat, aksi teror bom ini juga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia yang sedang mulai tumbuh kembali. Setelah terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada semester dua tahun 2015 sebagai akibat dari pelemahan nilai tukar rupiah, pada triwulan tiga perekonommian Indonesia mengalami percepatan dengan pertumbuhan sebesar 4,73 persen. Percepatan pertumbuhan ini juga dibarengi dengan penguatan nilai tukar rupiah yang mencapai nilai fundamental setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami pelemahan hingga mencapai Rp.14.700,- per USD pada bulan Oktober 2015. Perkembangan ekonomi Indonesia yang mulai positif ini, pada hari ini telah terganggau oleh peristiwa teror bom Jakarta.
Hal ini terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah sesaat setelah bom meledak di perbelanjaan Sarinah pada pukul 11.58. Pada pukul 12.13 nilai tukar rupiah melemah pada level Rp. 13.952,- per USD. Pelemahan rupiah ini dipicu oleh aksi penjualan rupiah oleh pihak asing. Sampai dengan penutupan perdagangan valas hari ini rupiah terdepresiasi 72 poin pada level Rp.13.907,- per USD. Padahal pada hari ini pula, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan  menurunkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen dengan suku bunga deposit facility 5,25 persen dan lending facility pada level 7,75 persen. Keputusan ini sejalan dengan pernyataan BI sebelumnya bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makroekonomi.
Aksi jual rupiah yang dilakukan oleh pihak asing disebabkan oleh ketidakpastian kondisi keamanan di Indonesia sebagai akibat aksi peledakan bom tersebut. Nilai tukar rupiah sangat memperngaruhi perekonomian Indonesia yang sebagian besar barang modalnya di impor dari luar negeri. Menilik kembali awal tahun 2015 ketika rupiah mengalami pelemahan, terjadi kenaikan harga barang kebutuhan pokok, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar di Indonesia. Kondisi demikian sangat tidak diharapkan terjadi kembali di Indonesia.
Reaksi panic selling akibat teror bom Jakarta juga terjadi di bursa saham Indonesia,. Hal ini terlihat pada indeks harga saham gabungan (ISHG) yang melemah 24 poin ke level 4.513,18 pada penutupan perdagangan saham tanggal 14 januari 2015. Pelemahan ini disebabkan oleh aksi lepas saham oleh investor asing sebagai aikbat dari kondisi keamanan Indonesia hari ini. Bagi investor asing kondisi keamanan yang kondusif sangat diperlukan untuk menjamin keberlangsungan usaha di Indonesia. Jika kondisi ketidakpastian ini terus berlanjut dikhawatirkan akan terjadi pelarian modal ke luar negeri. Harapannya pihak yang berwenang segera mengatasi aksi teror ini dan menjamin situasi keamanan yang kondusif di Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah dan menurunnyah IHSG sebagai akibat bom Jakarta ini semoga hanya sesaat dan tidak akan berkelanjutan sebagaimana yang disampaikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution.
Dampak dari teror bom Jakarta ini juga terjadi pada sektor pariwisata. Beberapa negara seperti Inggris, Australia, Amerika Serikat, hingga Rusia mengeluarkan travel warning kepada warga negaranya yang akan berkunjung ke Indonesia. Travel warning ini lebih kepada kewaspadaan tingkat tinggi berkaitan dengan adanya kemungkinan ancaman teroris di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan peringatan ini sudah tertulis di laman resmi Kementrian Luar Negeri dan Perdagangan Australia sejak tanggal 6 Januari 2016. Padahal pada saat itu kondisi keamanan dalam negeri Indonesia dalam situasi yang kondusif.
Situasi keamanan Indonesia yang sedang kurang kondusif saat ini ditambah dengan travel warning dari negara-negara besar tersebut, bisa berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Sebagai contoh ketika terjadi peristiwa bom Bali, berdasarkan hasil kajian Bali Strategic Enviromental Plan (BSEP) dari data sekunder kedatangan jumlah wisatawan mancanegara ke Bali menurun sebesar 57 persen pada tahun 2002. Sehingga hal ini menurunkan sumbangan sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Bali dari 59,95 persen menjadi 47,42 persen pada tahun 2002. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang potensial dalam perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing dari tahun ketahun.

Pada Bulan November 2015, jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 777,5 ribu oraang atau naik 1,70 persen jika dibandingkan pada Bulan November pada tahun 2014. Sedangkan untuk jumlah wisatawan asing dari Bulan Januari hingga Bulan November tahun 2015 sebanyak 8,80 juta kunjungan atau naik 3,23 persen jika dibanding periode yang sama pada tahun 2014 yang berjumlah 8,52 juta kunjungan. Potensi besar dari sektor pariwisata dalam meningkatkan perekonomian dan meningkatkan cadangan devisa negara ini jangan sampai terganggu oleh aksi teror yang tidak bertanggungjawab. Harapannya aksi teror ini segera teratasi dan pemerintah Indonesia semakin meningkatkan kewaspadaannya terhadap setiap aksi yang mengancam keamanan bangsa Indonesia. Sehingga keberlangsungan pembanguan ekonomi dan pembangunan manusia di Indonesia berjalan sesuai yang diharapkan.

Dimuat di Harian Radar Banten, 16 Januari 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#96 Kemiskinan dan Harga Diri

Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi miskin atau dari keluarga/negara miskin. Pun ketika kemiskinan tersebut dirend...